Korban Meninggal Lombok Capai 515 Orang, 431 Ribu Mengungsi

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Selasa, 21/08/2018 16:18 WIB
Korban Meninggal Lombok Capai 515 Orang, 431 Ribu Mengungsi Sebanyak 14 korban meninggal akibat gempa terakhir berkekuatan magnitudo 6,9 pada Minggu (19/8) menambah daftar korban meninggal jadi 515 orang. (AFP PHOTO / ADEK BERRY)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korban meninggal gempa Lombok bertambah 14 orang setelah guncangan berkekuatan magnitudo 6,9 mengguncang kawasan Nusa Tenggara Barat, Minggu (19/8).

"Gempa 6 SR pada Minggu (19/8) hanya menewaskan 2 orang dan yang terakhir dengan kekuatan 6,9 SR yang meninggal 14 orang," terang Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho pada konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (21/8).

Data tersebut dihimpun oleh BNPB pada pukul 10.00 WIB, Selasa, (21/8). Total korban meninggal dalam rangkaian gempa Lombok dengan demikian diperkirakan mencapai 515 jiwa.


Jumlah tersebut hasil akumulasi data korban terakhir dengan jumlah korban gempa pertama pada 29 Juli berjumlah 20 orang, kemudian gempa pada 5 Agustus menewaskan 479 orang.

Korban tewas terbanyak gempa terakhir ditemukan di wilayah Lombok Utara sebesar 6 orang. Berikutnya adalah Lombok Tengah 1 orang, Kabupaten Sumbawa 1 orang, Kab Sumbawa Barat 1 orang.

Sutopo menekankan korban meninggal bukan karena gempa tetapi karena tertimbun bangunan.

"Bukan gempanya yang membuat banyak korban jatuh tetapi bangunan yang tidak anti gempa," kata dia.
Korban Meninggal Lombok Capai 515 Orang, 431 Ribu MengungsiWarga memilih bertahan di perbukitan sejak gempa mengguncang Lombok. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Selain itu, tercata tiga warga meninggal karena serangan jantung karena trauma gempa.

Sutopo juga menjelaskan saat ini jumlah korban luka-luka akibat gempa ini mencapai 24 orang. Sementara warga yang mengungsi saat ini berjumlah 431.416 orang.

Data mengenai jumlah pengungsi ini diprediksi berkurang lantaran banyak warga yang kembali ke rumah. Namun dia mengakui bahwa data jumlah pengungsi bertambah pada malam hari karena masyarakat mengalami trauma.

Pengungsi pada umumnya masih membutuhkan segera bantuan terpal, air bersih, tenda, dan tikar. Sutopo mengklaim bahwa pendistribusian memang sulit ditembus terutama di wilayah-wilayah terpencil.

"Akan tetapi semua titik pengungsian sudah menerima bantuan hanya saja ada yang bantuannya per satu hari, tiga hari sekali, lima hari sekali," ujar Sutopo.

Mengenai hoaks yang menyebar di antara pengungsi, Sutopo minta masyarakat tidak mempercayai informasi prediksi gempa yang akan terjadi. Dia meminta masyarakat hanya untuk mempercayai BMKG.

"Hingga saat ini, bahkan Jepang yang memiliki teknologi paling canggih untuk pergempaan belum mampu memprediksi gempa. Kapan di mana dengan magnitudo sekian, mohon abaikan. Mohon hanya mempercayai BMKG sebagai lembaga yang sudah dipercaya pemerintah," tuturnya. (gil)