Fadli Zon soal Pelemahan Rupiah: Warning Membahayakan
CTR | CNN Indonesia
Jumat, 31 Agu 2018 16:32 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengkritik nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Dia mengatakan rupiah saat ini sudah dalam tahap membahayakan.
"Ini menurut saya suatu warning yang sangat membahayakan. Kalau kita ingat tahun 1997-1998 dimulai dengan krisis moneter," kata Fadli di Gedung DPR, Jumat (31/8)
Fadli mengungkapkan di zaman Orde Baru (Orba) saat itu, nilai rupiah terus merosot mulai dikisaran Rp2.200 ke Rp6.000 hingga terburuknya Rp18.000. Nilai rupiah saat ini pun demikian, hampir mencampai Rp15 ribu.
"Sekarang sudah Rp14.800 dan pemerintah harus berbuat sesuat. Kelihatan dari sini tidak ada intervensi kebijakan dari pemerintah menahan laju depresiasi," ujar Fadli.
Hal ini, kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu diperburuk dengan jumlah impor yang terus naik. Mulai dari beras hingga gula masih menjadi pekerjaan berat pemerintah untuk mempertahankan kedaulatan.
"Jadi saya kira sangat membahayakan ya terhadap kedaulatan pangan tetapi juga terhadap kurs kita yang akan semakin melemah," tegas dia.
Dia meminta pemerintahan Joko Widodo segera melakukan intervensi yang konkret. Dia juga meminta agar pemerintah tidak beralasan soal ekonomi adalah dampak luar negeri.
"Karena alasan [dampak luar negeri] klasik ya. Anak lulusan SD juga bisa ngomong begini. Jadi seharusnya pemerintah harusnya ada langkah yang jelas," tutup dia.
(dal)
"Ini menurut saya suatu warning yang sangat membahayakan. Kalau kita ingat tahun 1997-1998 dimulai dengan krisis moneter," kata Fadli di Gedung DPR, Jumat (31/8)
Fadli mengungkapkan di zaman Orde Baru (Orba) saat itu, nilai rupiah terus merosot mulai dikisaran Rp2.200 ke Rp6.000 hingga terburuknya Rp18.000. Nilai rupiah saat ini pun demikian, hampir mencampai Rp15 ribu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Pelemahan Rupiah Diperkirakan Berlanjut |
Hal ini, kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu diperburuk dengan jumlah impor yang terus naik. Mulai dari beras hingga gula masih menjadi pekerjaan berat pemerintah untuk mempertahankan kedaulatan.
Dia meminta pemerintahan Joko Widodo segera melakukan intervensi yang konkret. Dia juga meminta agar pemerintah tidak beralasan soal ekonomi adalah dampak luar negeri.
"Karena alasan [dampak luar negeri] klasik ya. Anak lulusan SD juga bisa ngomong begini. Jadi seharusnya pemerintah harusnya ada langkah yang jelas," tutup dia.