Rupiah Anjlok dan Senjata Melemahkan Elektabilitas Jokowi

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Jumat, 07/09/2018 20:43 WIB
Rupiah Anjlok dan Senjata Melemahkan Elektabilitas Jokowi Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto saat bertemu di Istana Negara, Jakarta. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Melemahnya nilai tukar rupiah menjelang pelaksanaan pilpres 2019 menjadi perhatian, baik dari kubu pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun kubu pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Prabowo dan Sandiaga bahkan telah mengutarakan sikap politik yang berisi keprihatinan mereka atas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Prabowo dan Sandiaga menganggap rezim pemerintahan Jokowi salah urus ekonomi.

Direktur Populi Center Usep Ahyar mengatakan gejolak terhadap rupiah bisa berdampak pada tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi selaku capres petahana.


"Saya kira mungkin akan sedikit mengoreksi soal kepuasan," kata Usep kepada CNNIndonesia.com.


Dampak terhadap tingkat kepuasan itu, kata Usep, nantinya juga akan berpengaruh terhadap tingkat elektabilitas Jokowi. Apalagi, menurutnya, jika kubu Prabowo bisa memanfaatkan momentum anjloknya rupiah dengan baik.

Namun, menurut Usep, soal seberapa besar pengaruhnya terhadap elektabilitas Jokowi tergantung penjelasan soal isu anjlok rupiah kepada masyarakat.

"Tergantung bagaimana kepiawaian Jokowi dan tim ekonominya, serta bagaimana antisipasi dampaknya," tutur Usep.

Usep menilai jika Jokowi dan tim ekonominya tak mampu mengantisipasi dampak dari anjloknya rupiah tersebut, maka hal ini bisa menjadi 'senjata' bagi kubu Prabowo.

"Ini akan jadi senjata baik untuk menurunkan elektabilitasnya Jokowi," ucap Usep.

Calon presiden petahana Joko Widodo. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Sementara itu, pengamat politik dari Habibie Center, Bawono Kumoro mengatakan dari hasil survei berbagai lembaga survei baik di Pilpres maupun Pilkada, faktor ketidakpuasaan di bidang ekonomi terhadap calon petahana biasanya lebih tinggi dibanding bidang lain.

"Wajar, karena ekonomi dirasakan oleh pemilih atau responden survei, karena menyangkut perut," ujarnya.

Karenanya, menurut Bawono, Jokowi perlu menyiapkan langkah untuk mengantisipasi anjloknya nilai tukar rupiah tersebut.


Jika rupiah bisa diatasi, kata Bawono, setidaknya ada dua keuntungan yang diperoleh Jokowi.

Pertama, kepercayaan publik terhadap Jokowi selaku petahana akan tetap terjaga. "Publik akan merasa secure, aman," kata Bawono.

Kedua, kubu Prabowo selaku oposisi akan kehilangan 'barang dagangan' untuk menyerang kubu Jokowi.

"Artinya kan rupiah melemah jadi peluru untuk kampanye, misal enggak bener ini kinerja ekonomis pak Jokowi, nah itu kalau bisa diantisipasi akan baik (untuk Jokowi)," tuturnya.

Calon presiden Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Isu ekonomi, sambung Bawono diperkirakan akan lebih ramai diperbincangkan pada Pilpres 2019 dibandingkan dengan isu lainnya.

Bawono mengatakan kubu Jokowi maupun kubu Prabowo akan berlomba meyakinkan publik soal kemampuan mereka dalam mengelola ekonomi Indonesia.

Dia menilai aksi bakal cawapres Sandiaga Uno yang menukarkan 35 persen dolar ke rupiah memang menjadi salah satu cara untuk mendapatkan simpati dari publik.

"Ya, itu cara mendapat simpati publik, artinya kejelian (soal isu ekonomi) sudah dibaca," kata Bawono.

Apalagi, kata Bawono saat ini Sandiaga belum menukarkan seluruh dollar yang dimilikinya. Artinya, menurut Bawono, Sandiaga juga menunggu momen yang tepat untuk nantinya kembali mencari simpati publik.

"Nunggu momen kapan ini, kan politikus bicara momen," ujarnya.
(pmg)