Sowan Sandi ke Gusdurian dan Potensi Pecah Suara Nahdliyin

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Rabu, 12/09/2018 06:18 WIB
Sowan Sandi ke Gusdurian dan Potensi Pecah Suara Nahdliyin Direktur Wahid Institute Yenni Wahid, di Rumah Pergerakan Graha Gus Dur, Jakarta, Senin (5/2). (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bakal Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno sowan ke kediaman istri almarhum Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah Wahid, Ciganjur, Jakarta Selatan, Senin (10/9).

Tak sekadar silaturahmi, kunjungan Sandi itu menyelipkan agenda politik. Putri kedua dari Gus Dur, Yenny Wahid, menyebut bahwa Sandi juga mengajaknya bergabung ke timses Prabowo Subianto-Sandi.

Peneliti LIPI Wasisto Raharjo Jati menilai upaya Sandi menyambangi keluarga Gus Dur bisa diartikan tak hanya sebagai upaya silaturahmi politik kepada keluarga tokoh bangsa. Namun juga sekaligus upaya memecah suara Nahdliyin.


"Kita tahu bahwa kubu Muhaimin [Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB] dan Yenny belum akur. Nah, itulah yang kemudian menjadi pintu pembuka bagi Prabowo-Sandi memecah suara," papar dia, saat dihubungi CNNIndonesia.com (11/9).

Yenny masih dianggap terutama oleh kalangan Gusdurian sebagai penerus ayahnya yang murni ketika banyak tokoh NU lain yang mulai dinamis. Dia juga mendapat dukungan dari kaum muda terutama mereka yang kecewa pada pilihan bakal cawapres Jokowi, yakni Ma'ruf Amin, yang tak sesuai ekspektasi.

Bagi Wasisto, Yenny masih memiliki kans kuat memecah suara kaum Nahdliyin. Dia dinilai sebagai Gusdurian alias pengikut Gus Dur yang bisa merangkul kaum muda.

Bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno, di Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, 17 Agustus.Bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno, di Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, 17 Agustus. (CNN Indonesia/Safir Makki)
"Ya saya pikir mungkin karena Yenny Wahid sebagai penerus Gus Dur mungkin akan signifikan [suaranya]. Mungkin beliau bisa merangkul suara-suara kecewa yang kemarin tidak memilih Ma'ruf," terangnya.

Meski demikian, Wasisto mengakui bahwa kemungkinan kaum Nahdliyin di Jawa Timur takkan serta merta mengikutinya menyeberang ke kubu Prabowo. Sebab, kemenangan Kofifah Indar Parawansa dalam perebutan kursi Gubernur Jatim masih menunjukkan wilayah tersebut sebagai lumbung suara Jokowi.

Ketua Bappilu Pusat NasDem Effendi Choirie alias Gus Choi menganggap kunjungan tersebut sebenarnya merupakan kultur positif calon pemimpin di Indonesia.

Sebagai bakal cawapres, lanjutnya, Sandi sudha seharusnya menjalin silaturahmi ke mantan-mantan pemimpin, bahkan termasuk ke Megawati Soekarno Putri sebagai Presiden kelima RI.

"Itu kultur. Siapa pun yang mau jadi pemimpin itu bagus untuk sowan silaturahim ke mantan-mantan atau tokoh presiden, wakil presiden. Misalnya, datang ke Habibie, bagus. Karena Gus Dur sudah meninggal, ke istrinya Gus Dur itu bagus," ujar Gus Choi di Kantor DPP NasDem, Jakarta Pusat, Selasa (11/9).

Namun, Gus Choi menilai Yenny takkan memecah suara pengikut Nahdlatul Ulama (NU). Dia mengklaim Ma'ruf Amin yang masih menjabat sebagai Rais Aam PBNU akan mendapat hampir 90 persen suara NU.

[Gambas:Instagram]
"Enggak. NU insyaallah dukung Kiai Ma'ruf ini minimal 90 persen. 85-90 persen. Lebih total. Dulu ada sejarah NU tidak kompak karena, Pak Hasyim jadi wakilnya Bu Mega, karena ada Gus Solah didukung PKB. Pecah," kata dia.

Yenny Tak Gegabah

Di sisi lain, Wasisto menilai perempuan yang bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid itu tak akan gegabah memilih kubu. Sebab, ada sejumlah hal yang akan dikorbankan jika mendukung Prabowo-Sandi.

Pertama, netralitas dirinya dan NU dalam politik. Kedua, warisan toleransi Gus Dur. Pasalnya, kubu Prabowo-Sandi disebut memiliki banyak sosok yang dipandang intoleran.

"Jika dia bergabung ke kubu sebelah [Prabowo-Sandi], risikonya akan besar untuk dia sendiri," cetus Wasisto.

Yenny sendiri terakhir kali mengatakan bahwa dirinya mendapatkan pinangan untuk berada di timses kubu yang akan bertarung di Pilpres 2019. Namun dia menyatakan takkan berpihak pada kubu mana pun.

"Saya kan jomblo politik," kata Yenny saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Selasa (11/9) merujuk pada ketidakterkaitannya dengan partai politik yang ada.

Istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid (kedua kanan), di Balai Pelestarian Nilai Budaya, Yogyakarta, 2015.Istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid (kedua kanan), di Balai Pelestarian Nilai Budaya, Yogyakarta, 2015. (Sigid Kurniawan)
Diketahui, kubu Gus Dur sempat berkonflik dengan Muhaimin Iskandar terkait kepengurusan PKB.

Selain itu, pada pemilihan cawapres bagi Jokowi, Yenny Wahid dan Gusdurian cenderung dekat dengan sosok Mahfud MD, bukan dengan Ma'ruf Amin.

(arh/wis)