Gus Miftah, Dari Dakwah Sarkem Berujung Viral di Boshe Bali

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Kamis, 13/09/2018 07:17 WIB
Gus Miftah, Dari Dakwah Sarkem Berujung Viral di Boshe Bali Gus Miftah, ustaz yang getol berdakwah di tempat hiburan malam. (Foto: Screenshot via instagram (@gusmiftah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah rekaman video yang menampilkan pekerja klub malam Boshe VVIP di Bali melantunkan selawat nabi dipandu seorang ustaz di atas panggung menjadi viral pada pekan ini.

Sosok yang memandu di atas panggung klub malam itu adalah Gus Miftah Maulana Habiburrahman, pengasuh pondok pesantren Ora Aji, Tundan, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gus Miftah mengatakan dakwah di dunia malam itu adalah rutinitas yang ia lakukan sejak sekitar 12 tahun silam. Tujuan dia sederhana: memberi kesempatan kepada mereka yang terbentur dengan tuntutan hidup agar kembali lebih dekat dengan Islam.


Menurutnya tak ada upaya selain terjun langsung memberi tausiah ke dunia malam yang menjadi tempat mereka mencari peruntungan. Jika tidak begitu, kata Gus Miftah, celah ruang tobat akan selalu sempit.

"Yang perlu dipahami tidak hanya berbicara halal haram, tidak hanya berbicara surga-neraka, tidak hanya berbicara pahala dan dosa. Agama tidak sesempit itu," ujar Gus Miftah saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (12/9).


Mengisi pengajian malam sudah menjadi kebiasaan Gus Miftah. Dia mulai melakoni terjun dakwah kawasan Pasar Kembang alias Sarkem, Yogyakarta. Daerah tersebut dikenal sebagai lokalisasi para pencari pemuas berahi.

Pada mulanya, ada saja penolakan baik dari penguasa wilayah maupun manajemen tempat hiburan malam. Namun penolakan itu tak menghentikan niatnya melakoni dakwah di dunia malam.

"Total sudah 12 tahun," kata Gus Miftah.

Gus Miftah mengaku kerap dicibir selama melakukan kegiatan tersebut. Bahkan ada pula yang sempat menyebutnya telah melacurkan ajaran agama dan menerima bayaran dari pengelola tempat-tempat tersebut.

"Paling tidak enak itu saya ketika dituduh melacurkan agama. Untuk itu (mengisi pengajian di tempat hiburan malam) saya biaya sendiri, tiket hotel sendiri. Semuanya saya biaya sendiri. Kalau tuduhannya saya melacurkan agama, itu tidak benar," ujar Gus Miftah.

Gus Miftah tak ambil pusing dengan orang-orang yang mengkritiknya. Dia memilih istiqomah melakoni jalannya turut menyiarkan ajaran Islam dan memberikan tausiah ke tempat-tempat hiburan malam.

"Jangan pernah halangi mereka untuk kembali bermesraan dengan Tuhan-nya," ujar dia.

Menurut Gus Miftah, para pekerja tempat hiburan itu setidaknya memiliki nurani dan rasa malu atas profesi yang mereka tekuni. Namun, sambungnya, rasa malu itu kalah oleh kebutuhan yang berada di depan mereka.

"Nah yang kita cari bagaimana kita menumbuhkan perasaan malu di mereka. Bagaimana caranya kita masuk untuk menyadarkan mereka. Sementara itu, banyak orang yang datang ke mereka hanya sebagai hakim, tak memberi solusi," ujarnya.

"Karena itu saya masuk ke mereka, karena kesempatan mereka [pekerja hiburan] lebih sedikit,"

Kepada para pekerja malam tersebut, sambung pria yang disapa Abah Miftah oleh para santrinya itu, menyelipkan pesan-pesan dalam tausiah agar para pekerja hiburan itu tak melupakan tujuan hidup di dunia.

[Gambas:Instagram]

Perjuangan Awal

Gus Miftah pun bercerita mengenai perjuangan awal mengisi pengajian di tempat-tempat yang ia plesetkan sebagai 'Puskesmas' (Pusat Kesenangan Mas-mas).

Rupanya kegiatan itu tak semudah yang dibayangkan. Gus Miftah sendiri yang harus mengurus segala rupa perizinan.

"Dulu awalnya saya datangi tempat itu, saya surati manajemennya. Saya sebut, saya Gus Miftah, saya ingin memandu anak-anak untuk mengaji," katanya.

Mulanya, para pemilik tempat hiburan malam itu mengabaikan Gus Miftah. Selain menolak, bahkan ada yang mencurigainya ingin merusak bisnis hiburan malam mereka.

"Ada yang [didekati] setengah tahun, ada yang sebulan, ada yang berdebat dulu sebelum memberi izin. Awalnya dicurigai ini merusak... Bahkan di Sarkem (Pasar Kembang) sempat diajak kelahi oleh premannya," kenang Gus Miftah.

Syahdan, pada akhirnya Gus Miftah mendapatkan kesempatan juga untuk mengisi pengajian dan tausiah bagi para pekerja tempat hiburan malam itu.

"Perlu dicatat di semua tempat itu saya tidak dibayar, mereka hanya memberi ruang dan waktu," ujar Gus Miftah.

Perjuangannya terbayar. Kini, di daerah Yogyakarta dan sekitarnya terbilang rutin mengisi pengajian di tempat hiburan malam. Tak hanya itu, tempat hiburan di kota lain yang menjadi jaringan salah satu tempat hiburan di Yogyakarta pun berminat untuk mendatangkan dirinya seperti yang terjadi di Bali.

"Kalau disuruh menegakkan Islam dengan menuntut penutupan tempat hiburan itu, saya bukan wali kota, saya bukan bupati, saya bukan gubernur yang memiliki kuasa untuk itu," katanya.

Setelah di Bali, kegiatan terkini Gus Miftah adalah kajian rutin bersama Warga Sarkem dan Laskar Jogja yang dilakukan pada Selasa (11/9) malam lalu.

Ponpes itu ia rintis bangun pada 2011 silam. Ora Aji, sambungnya, secara harafiah berarti tidak bernilai atau tidak berharga. Itu, sambung Gus Miftah, menunjukkan manusia tidak ada nilainya di hadapan Allah SWT kecuali karena ibadahnya.

Hingga kini, ia berhasil mengelola ponpes tersebut dan saban pekan mengadakan mujahadah atau doa bersama setiap 35 hari sekali.

Gus Miftah mengatakan bakal tetap menyiarkan dakwah di tempat-tempat hiburan malam. Soal busana dari para pekerja malam yang terbilang seksi saat mendengarkan ceramahnya, Gus Miftah mencoba memaklumi. Menurutnya, akan lebih lama lagi bagi para pekerja itu untuk bersalin busana sebelum mendengarkan tausiah dan kembali mengganti baju lagi saat akan bekerja.

Tapi, sambung Gus Miftah, hasilnya cukup terlihat karena ia mendapati beberapa mantan pekerja hiburan malam yang memilih hijrah. Bahkan, sambungnya, ia pun telah membantu membimbing sejumlah orang untuk memeluk Islam (Mualaf).

Lantas, apakah Gus Miftah pernah tergoda ataupun digoda pekerja hiburan di tempatnya memberikan pengajian dan tausiah tersebut?

"Tuhan kan memberi kita rem yakni iman. Itu cara kita agar jangan sampai terbawa. Biasa kalau ada yang goda, tapi kita punya rem iman," ujar pengasuh ponpes Ora Aji ini.