OSO soal Debat Capres Bahasa Inggris: Rakyat Tak Semua Ngerti

Joko Panji Sasongko & Abi Sarwanto, CNN Indonesia | Jumat, 14/09/2018 14:47 WIB
OSO soal Debat Capres Bahasa Inggris: Rakyat Tak Semua Ngerti Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang. (CNN Indonesia/Joko Panji Sasongko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang alias OSO mengkritik usulan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk menggelar debat menggunakan bahasa Inggris di acara debat kandidat capres-cawapres.

Menurut Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ini, penggunaan bahasa Inggris dalam debat bukan soal menunjukkan kemampuan berbahasa, melainkan pemahaman yang dapat dimengerti masyarakat.

"Rakyat tidak semuanya yang mengerti bahasa Inggris. Bagaimana? Kamu ngomong bahasa Inggris tidak mengerti, terus tepuk tangan?" ujar Oesman di kompleks parlemen, Jakarta, Jumat (14/9).


Terlebih, kata dia, debat merupakan bagian kampanye yang bertujuan untuk saling menjatuhkan dan mempertahankan gagasan.

"Kampanye itu mau menjatuhkan dan tidak mau menjatuhkan. Tapi kalau menjatuhkan dalam bahasa yang rakyat mengerti bagaimana?" ujarnya.

Selain itu, Oesman menilai penggunaan bahasa Inggris dalam debat tidak menunjukkan jiwa nasionalisme. Apalagi kata dia, hal itu digunakan di dalam negeri.

"Saya kira bukan keliru ya, tapi where are you nationality? Orang Korea datang dia bahasa Korea. Saya keluar negeri pun biar saya bisa bahasa Inggris, saya bahasa Indonesia. Saya tidak mau bahasa Inggris, bukan tidak mau tapi saya tunjukkan we are Indonesian," katanya.

Usul menggelar debat capres-cawapres menggunakan bahasa Inggris dilontarkan Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Yandri Susanto, kemarin. Yandri berkata seorang kepala negara bergaul di forum internasional sehingga wajar jika digelar debat menggunakan bahasa Inggris.

Sementara itu, politikus PKS Nasir Djamil tidak setuju usul tersebut meski partainya dan PAN sama-sama tergabung dalam koalisi Prabowo-Sandi.

Menurutnya, penggunaan bahasa Inggris bisa menimbulkan kekecewaan masyarakat Indonesia yang tidak memahaminya.

"Rakyat Indonesia kan sedikit yang bisa bahasa Inggris. Kalau nanti dalam debat bahasa Inggris, ya orang yang tidak bisa bahasa Inggris bisa kecewa," ujar Nasir.

Nasir memilih debat capres dan cawapres tetap menggunakan bahasa Inggris. Dia beralasan capres-cawapres tinggal di Indonesia dan bahasa yang digunakan pun Indonesia, bukan bahasa Inggris.

"Jadi karena kita tinggal di Indonesia, bahasa kita bahasa Indonesia. Maka yang paling patut dipergunakan dalam debat acara Pilpres itu ya bahasa Indonesia. Sehingga seluruh masyarakat Indonesia mengetahui apa yang disampaikan oleh capres dan cawapres," ujarnya.

Lebih dari itu, Nasir mengimbau semua pihak tidak menimbulkan polemik jelang Pilpres 2019.
(wis/wis)