"Di tengah jalan saya sampaikan saya kesulitan, begitu mau merajut kebersamaan, dibilang 'lu orang sana, lu orang dia'. Jadi kan tidak bagus. Sekarang menjadi tidak mudah karena sudah ada sensitivitas politik yang tinggi karena Pilpres," kata Din di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (25/9).
Hal itu disampaikan dalam pertemuan tertutup sekitar 30 menit bersama Jokowi di Istana Merdeka hari ini. Din menyatakan pengunduran diri telah disampaikan secara tertulis sejak 21 September. Namun, dia baru berkesempatan menyampaikan langsung sore ini.
"Silaturahmi dan menyampaikan pengunduran diri sebagai utusan presiden. Alhamdulillah beliau sudah baca dan dapat memahami maksudnya apalagi setelah saya sampaikan lisan tadi," ujar Din.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau saya masih menjabat utusan khusus presiden yang sekarang jadi capres, banyak yang memahami saya hanya di satu pihak itu akan menghalangi dan memudahkan saya membangun masyarakat majemuk," katanya.
Menurut Din, penjelasan itu bisa diterima Presiden Jokowi. Dia pun menyerahkan keputusan selanjutnya kepada Jokowi mulai dari penentuan pengganti hingga tetap menghidupkan lembaga itu atau tidak.
Setelah mengundurkan diri, Din menegaskan tak akan bergabung dalam tim sukses pasangan calon presiden dan calon wakil presiden manapun.
"Tapi sekali lagi ini bukan netral golput. Tapi saya pesankan tidak baik kalau golput, nanti hak pilih dilaksanakan pada waktunya," ujar Din.
Din mengatakan bakal mengundang kedua pasang capres dan cawapres menghadiri acara Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju pada 12 Oktober di Puri Agung Sahid Hotel. (chri/ayp)