LSI Nilai Prabowo-Sandi Sulit Ambil Suara Nahdlatul Ulama

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 29/09/2018 02:42 WIB
LSI Nilai Prabowo-Sandi Sulit Ambil Suara Nahdlatul Ulama Pasangan Capres-Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berikrar menjalankan kampanye damai Pemilu serentak 2019. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ardian Sopa, menilai kubu Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno akan sulit mendapatkan suara dari Nahdlatul Ulama (NU) dalam pilpres 2019. Hal ini diungkapkan Ardian terkait dukungan Yenny Wahid ke kubu Jokowi-Maruf.

"Menurut kami, ini jalan yang agak terjal untuk Prabowo mengambil suara NU karena memang secara struktural (kiai) sudah dikuasai, masyarakat sudah dikuasai (Jokowi-Maruf)," ujar Ardian saat ditemui di Kantor LSI di Rawamangun, Jakarta Timur pada Kamis (27/9).

Selain itu, menurut LSI Jokowi-Maruf juga dipersepsikan publik sejauh ini sebagai pasangan yang lebih mewadahi kepentingan NU. Hal itu tercermin dari suara NU yang masih besar ke Jokowi Maruf ketimbang Prabowo-Sandi.

Pasca Ijtimak Ulama II, dukungan untuk Jokowi Maruf meningkat dari 54,7 persen pada Agustus ke 55,5 persen. Sementara dukungan terhadap Prabowo-Sandi menurun dari 27 persen ke 26,1 persen.


Oleh karena itu, Ardian menilai bahwa pilihan Yenny ke Jokowi Maruf sudah sesuai dengan data yang ditangkap oleh lembaganya pula.

Namun Ardian mengatakan Prabowo-Sandi masih mungkin mendapatkan suara. Ada dua cara yang bisa diambil Paslon nomor urut 02 tersebut jika ingin memikat pendukung NU.

Pertama, masyarakat yang mengaku NU tak selalu mengikuti pandangan politik elitenya. Prabowo-Sandi bisa membangun citra bahwa keduanya kental memegang nilai-nilai NU sehingga pemilih merasa terwakili.
"Kita main di persepsi ya. Persepsi di antara dua pasang ini yang lebih didukung NU, siapa dari dua pasang ini yang dianggap lebih mewadahi NU, memperjuangan kan NU, dan sebagainya," kata dia.

Kedua, adalah dengan mendekati para kiai di daerah-daerah yang tidak terkoneksi dengan kiai struktural yang telah dikuasai Jokowi-Maruf.

"Memang kiai daerah ini ya (bisa) karena dia ada yang terkoordinasi dengan pemimpinnya ada yang tidak," lanjutnya.

Namun menurut Ardian, cara itu memang cukup sulit dilakukan karena perkumpulan ulama yang dikuasai Jokowi-Maruf lebih besar dari Prabowo-Sandi. Ijtimak Ulama atau PA 212 jumlahnya masih jauh lebih kecil dibanding ittifaq (perkumpulan ulama) NU.

"Misalnya Ijtimak ulama ini kan isinya juga ulama-ulama juga tetapi kalau dilihat lebih dalam lagi, ada ulama NU tetapi tidak sebesar yang di ittifaq ulama sehingga ini juga terpisah. Dan yang di ittifaq ulama dan yang dukung Jokowi-Maruf bahkan lebih banyak pengurus ponpes bahkan kiai kiainya," papar Ardian.

Diketahui, Yenny Wahid merupakan anak kedua dari mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid yang selama ini dianggap sebagai representasi Gusdurian. Yenny juga salah satu tokoh NU.

Kemarin Yenny telah mengumumkan bahwa pihaknya akan mendukung Jokowi-Maruf dalam Pilpres tahun depan.

Sementara, menurut survei nasional LSI yang dilakukan pada 14-22 September 2018, terdapat 43 persen orang yang mengaku NU dari 1200 responden.

"Suara NU nya sendiri 43%... Berapa persen Yenny atau Gusdurian belum kita uji di survei. mudah-mudahan di next survei bisa kita uji," tutupnya. (kst/age)