Analisis

'Darah' Ganda Yenny Wahid di Antara Gusdurian

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 29/09/2018 15:43 WIB
Alissa Wahid bicara panjang lebar mengenai gerakan politik yang dibawa adiknya, Yenny Wahid dalam dukungannya di Pilpres 2019 tak bisa diatasnamakan Gusdurian. Yenny Wahid. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja).
Jakarta, CNN Indonesia -- Putri pertama Presiden RI ke-4, Abdurahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid mengunggah tulisan di akun Twitternya terkait dengan jaringan Gusdurian usai adiknya, Yenny Wahid dan simpatisan Gus Dur deklarasi dukungan kepada Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.

Dalam sejumlah cuitannya Alissa panjang lebar bicarakan soal gerakan Gusdurian, politik, dan keputusan adiknya yang terbuka mendukung Jokowi-Ma'ruf membawa nama Gusdurian.

"Gerakan @GUSDURians sudah menetapkan bahwa kami adalah gerakan kebangsaan. Tidak ada strategi politik kekuasaan," kata Alissa dalam akun twitternya, Rabu (27/9).


"Program-program bela petani, kegiatan lintas iman, promosi toleransi, penguatan demokrasi, dilepaskan dari siapa yang berkuasa baik nasional maupun daerah.'

Cuitan itu diiringi dengan cuitan lain dari Alissa tentang bagaimana dia ingin menjaga Gusdurian tetap netral dan tidak berafiliasi dengan partai politik atau pasangan calon presiden dan calon wakil presiden mana pun.

Alissa pun meyakinkan bahwa gerakan Gusdurian itu akan tetap netral, kalau pun memiliki pilihan politik, tentunya tak akan diumbar-umbar ke permukaan.

"@GUSDURians bukan gerakan politik elektoral, tapi gerakan sosial. Juga bukan lembaga dana. Karena sikap tegas inilah, justru kami berkembang pesat. Tidak dicemaskan akan dikooptasi utk kepentingan politik 5 tahunan."



Alissa pun menyebut kawan-kawan Gusdurian resah ketika media dan publik menggunakan kata Gusdurian untuk memotret sikap politik Yenny.

Padahal, Yenny sebagai penjaga warisan politik Gus Dur tentu mengelola gerakan politik, yaitu gerakan kader Gus Dur, namun berbeda dengan perjuangan Gusdurian sebagai gerakan kebangsaan.

Di sini Alissa menggarisbawahii bahwa dukungan Yenny kepada Jokowi-Ma'ruf bukan gerakan yang dianut Gusdurian. Dukungan itu murni gerakan politik oleh Yenny tanpa embel-embel Gusdurian.

"Di keluarga Ciganjur, ruang strategis juga dibuka. Secara utuh, dzurrriyah merawat warisan perjuangan Gus Dur. Gus Dur sebagai Guru Bangsa dan pejuang rakyat, dirawat bersama. Tidak ada muatan politis di sini. Gus Dur sebagai politisi, dirawat @yennywahid. Ini gerakan politik," katanya.


Alissa menambahkan, aktivis Gusdurian pun berhak berpolitik sebagai warga negara. Mereka yang ingin berpolitik tentu ikut Yenny, tapi tak boleh atas nama Gusdurian.

"Agar garis perjuangan kami tetap terjaga."

Namun Alissa menekankan tidak ada perpecahan di keluarga Ciganjur. Meski Yenny ia sebut sebagai penjaga gerakan politik, dan berbeda dengan arah perjuangan Gusdurian.

"Tidak ada perpecahan di Ciganjur. Kami mendiskusikan semuanya. Sikap & deklarasi @yennywahid pun demikian. Jadi lupakan agenda adu domba ya."



Tak hanya aktif sebagai aktivis kemanusiaan, Yenny yang sempat menjabat sebagai staf khusus kepresidenan pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini memang aktif di ranah politik.

Dia berkali-kali menyatakam dukungannya untuk pasangan-pasangan calon yang berkontes di pemilu. Misalnya, pada saat Pilgub DKI 2017 lalu, Yenny secara terang-terangan menyatakan dukungannya untuk Basuki Tjahja Purnama alias Ahok.
'Darah' Ganda Yenny Wahid, Tak Selalu Diikuti GusdurianYenny Wahid bersama konsorsium Gusdurian mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Tak Selalu Diikuti Gusdurian

Pengamat Politik Universitas Islam Negeri Adi Prayitno pun menjelaskan, sebagai putri kedua Gus Dur, Yenny memang memiliki arah pemikiran yang berbeda dengan saudara-saudaranya. Sejak awal, Yenny tak hanya condong pada kegiatannya sebagai aktivis, tapi dia juga bermain di ranah politik.

"Untuk jelasnya, Yenny ini berdarah ganda. Dia aktivis LSM tapi dia juga bermain politik," kata Adi saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon, Jumat (28/9).

Terkait dukungan Gusdurian yang disebut-sebut mengekor Yenny, sama dengan Alissa, Adi menyebut itu belum bisa dipastikan. Sebab kata dia, Gusdurian adalah komunitas, bukan lembaga politik. Gusdurian pun tak berdarah ganda.

"Gusdurian ini adalah satu komunitas yang didasari keinginan dan semangat mengikuti jejak dan pemikiran Gus Dur," kata dia.

Jaringan mereka kata dia, terbentuk berdasarkan pada nilai dan ikatan tertent,u maka tak bisa disamakan dengan partai politik maupun LSM.

"Jadi ketika Mba Yenny dukung A, belum tentu semua Gusdurian ikut. Karena mereka bukan parpol atau organisasi," katanya.

Sementara itu, pengamat politik LIPI Lucky Sandra Amalia justru memiliki pandangan yang berbeda. Sebagai bagian dari keluarga Gus Dur, Yenny tentu saja mampu menarik pemikirian para Gusdurian. Kata dia, ketika bagian keluarga menyatakan arah dukungan, bukan tidak mungkin banyak pengikutnya yang akan berjalan beriringan.

"Apapun yang diputuskan keluarga itu memang menjadi penting bagi mereka (Gusdurian) yang masih patuh pada kyainya," kata dia. (osc)