Dokter Forensik tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri Ajun Komisaris Besar Summy Hasrty Purwanti mengatakan ratusan jenazah tersebut ada yang sudah teridentifikasi dan ada juga yang masih dalam proses identifikasi.
"Ada 600-an jenazah, ada yang udah teridenifikasi, ada yang belum," kata Hastry di RS Bhayangkara, Selasa (2/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hastry, jenazah yang dimakamkan secara massal tersebut pun ada yang sudah teridentifikasi dan ada yang belum. Adapula jenazah yang sudah teridentifikasi dan dijemput keluarga tetap diikutkan dalam pemakaman massal tersebut.
Tim SAR mengevakuasi seorang korban dari reruntuhan di Hotel Roaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). (ANTARA FOTO/Basri Marzuki) |
Hastry mengungkapkan ada sejumlah kesulitan yang dihadapi oleh tim DVI saat proses identifikasi. Pertama, proses pembusukan yang cepat, terutama untuk korban tsunami. Pembusukan itu juga dipengaruhi cuaca Palu yang panas.
Kedua, sambung dia, adalah banyaknya jenazah yang merupakan satu keluarga juga menyulitkan tim untuk melakukan identifikasi.
"Kan banyak juga yang satu keluarga, jadi identifikasinya kadang susah juga," ucap Hastry.
"Kendala kekurangan personel dokter forensik hanya empat orang dari mabes polri," lanjutnya.
Menurut Hastry, upaya penambahan jumlah personel masih terkendala transportasi menuju Palu.
Petugas melakukan evakuasi korban di Perumnas Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"Dibilang kurang, tapi suplai datang terus dan kita berharap suplai terus ada karena kan jenazah terus berdatangan," ujarnya.
Hastry mengatakan untuk proses identifikasi korban gempa dan tsunami di Palu sampai saat ini masih dipusatkankan di RS Bhayangkara dan tidak dilakukan di rumah sakit lainnya.
(dis/arh)

Petugas melakukan evakuasi korban di Perumnas Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). (