Kisman mengklaim sebagai penggagas himpunan Solidaritas untuk Ratna dan Demokrasi. Himpunan ini disebut Kisman sempat menggelar pertemuan untuk membela Ratna di sebuah rumah makan, Menteng, Jakarta, pada Selasa (2/10) malam, sebelum Ratna mengakui kebohongannya pada Rabu (3/10).
Pertemuan itu diklaim dihadiri 500 orang. Namun Kisman menyatakan kecewa setelah keesokan harinya Ratna mengakui telah berbohong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terpisah, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin mengadu ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) soal kabar bohong Ratna.
TKN Jokowi-Ma'ruf menilai kabar bohong itu menunjukkan ketidakseriusan peserta pemilu menindaklanjuti kesepakatan kampanye damai yang ditandatangani oleh seluruh peserta pemilu beberapa waktu lalu.
Irvan menyebut hoaks Ratna telah membuat gaduh. Selain itu, pihaknya turut dirugikan atas kabar bohong tersebut karena ada sejumlah pihak mengaitkan tindak kekerasan terhadap Ratna dilakukan oleh kubu Jokowi.
"Masyarakat menjadi tendensius, ada yang pro dan kontra. Bagi kami merasa dirugikan karena ada persepsi negatif dan pendapat sebagian orang bahwa telah dapat menyudutkan paslon 01 sebagai, katakanlah, oknum pelaku," kata dia.
"Kami minta kepada Bawaslu untuk lebih cermat melakukan proses pengawasan, terutama terhadap masalah hoax. Hoax ini luar biasa menurut kami. Tindak pidana yang luar biasa karena belum ada regulasi khusus yang atur hoaks ini," kata dia.
Sebelumnya, Garda Nasional untuk Rakyat (GNR) juga melaporkan Prabowo Subianto ke Bawaslu dengan dugaan melakukan kampanye hitam, karena ikut menyebarkan hoaks Ratna. (gst/fhr/wis)