Penanganan Gempa Dinilai Belum Optimal di Sigi dan Donggala

Antara, CNN Indonesia | Selasa, 09/10/2018 10:19 WIB
Penanganan Gempa Dinilai Belum Optimal di Sigi dan Donggala Warga desa Wani 1 dan wani lumbu petigo mengungsi di perbukitan Gunung Sigiba, Donggala, Sulawesi Tengah, Kamis, 4 Oktober 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah daerah di Sulawesi Tengah didesak memerhatikan penanganan korban gempa dan tsunami di daerah terpencil, seperti bagian Pantai Barat Donggala dan Kulawi, Kabupaten Sigi. Wilayah-wilayah tersebut disebut belum terjamah penanganan bantuan akibat akses transportasi yang tertutup pascagempa dan tsunami 28 September 2019.

Ketua Fraksi NasDem DPRD Sulawesi Tengah Muhamad Masykur mengatakan selama 10 hari akses ke daerah itu tertutup. Suplai bantuan hanya bisa melalui helikopter. Hal itu pun, katanya, dalam jumlah terbatas dan terpusat di tempat tertentu.

"Setelah akses jalan darat sudah terbuka maka tidak bisa tidak pemerintah daerah mesti hadir di sana. Mengoordinir dan mengatur pola distribusi logistik yang akan masuk ke sana," ujar Masykur seperti dikutip Antara.



Ia mengatakan hingga 10 hari terakhir ini masih banyak warga yang belum mendapatkan bantuan logistik. Jika pun ada, jumlahnya terbatas karena selama ini distribusi logistik melalui helikopter belum merata dan hanya terpusat di ibu kota kecamatan.

Menurut dia, sampai saat ini, koordinasi dan manajemen penanganan pascabencana masih menjadi masalah utama yang belum ada solusi secara memadai pada masa tanggap darurat di daerah itu.

"Buktinya, arus masuk bantuan dari luar berbondong-bondong masuk, lalu lalang truk bantuan logistik tidak henti-henti. Tapi anehnya masih banyak sekali warga di tenda pengungsian, belum tersentuh bantuan," katanya.

Sektor Kesehatan Ditargetkan Pulih Pekan Ketiga Pascabencana Sulteng

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengatakan sektor pelayanan medis di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yang terdampak gempa dan tsunami pada 28 September lalu diupayakan bisa pulih seperti biasa pada pekan ketiga pascabencana.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengatakan tahap pemulihan akan dilakukan dengan upaya dari layanan kesehatan, gizi, kesehatan reproduksi, pengendalian penyakit, kesehatan lingkungan, dan kesehatan jiwa.

Achmad mengatakan hingga awal pekan ini sebanyak 50 Puskesmas di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi sudah mulai beroperasi dengan dibantu tenaga relawan. Begitu juga pada 11 rumah sakit di tiga wilayah terdampak yang diisi oleh dokter dan perawat dari relawan.

Tim dari Kementerian Kesehatan telah melakukan penilaian terhadap alat-alat medis yang masih bisa digunakan dan tidak mengalami kerusakan. Sementara sebagian besar Puskesmas tidak ada yang rusak.

"Secara umum dapat dikatakan 90 persen sudah pulih," kata Yurianto di Palu, Senin (8/10).

Pemerintah Diminta Perhatikan Korban Gempa Sulteng TerpencilPerawatan medis oleh petugas terhadap korban gempa Sulteng di sebuah rumah sakit lapangan, Palu. (REUTERS/Athit Perawongmetha)

Selain itu dalam upaya menjaga pertumbuhan dan gizi, Kementerian Kesehatan menyiapkan bahan makanan untuk pangan bayi dan anak. Dibutuhkan sekitar 1.500 sampai 2.000 porsi makanan bayi dan anak setiap hari.

Pembuatan makanan bayi dan anak tersebut dilakukan sendiri oleh orang tua anak di dapur umum, atau di rumah warga yang tidak terlalu parah terdampak gempa.

"Kita menyadari bahwa dapur umum mungkin tidak sempat untuk memasak makanan untuk bayi, tidak sempat membuat bubur dan sebagainya. Kalaupun sayur, itu sayur untuk porsinya orang dewasa dengan bumbu dan sebagainya," kata Yurianto.

Selanjutnya setelah Puskesmas sudah kembali berjalan normal di pekan ketiga pascabencana, agenda kesehatan rutin yang dilakukan bayi seperti imunisasi, pemeriksaan kesehatan ibu hamil, serta layanan kontrasepsi akan dijalankan lagi.


Pengendalian Penyakit

Dalam hal pengendalian penyakit, Kementerian Kesehatan juga menargetkan untuk memberikan pelayanan kesehatan untuk pasien dengan penyakit kronis.

Untuk kesehatan lingkungan, Kementerian Kesehatan telah menyemprotkan disinfektan pada rumah sakit-rumah sakit yang sempat menjadi transit jenazah korban sebelum dimakamkan. Disinfeksi RS tersebut dilakukan secara serial berulang kali untuk membunuh bakteri yang tersisa dari pembusukan jenazah.

Kementerian Kesehatan rencananya juga akan menyemprotkan disinfektan pada sampah-sampah di pinggir jalan yang sudah menumpuk pascagempa. Setelah itu di bidang kesehatan jiwa, yaitu yang dimulai dari pemulihan trauma, harus dilakukan oleh berbagai pihak.

Menurut dia, saat ini masih ada warga yang dalam tahap penyangkalan bahwa anggota keluarga atau kerabatnya sudah meninggal dunia. Yurianto mengatakan butuh waktu beberapa lama hingga akhirnya orang tersebut berada pada tahap menerima kenyataan.

Kemenekes juga mengharapkan pada akhir pekan depan fokus penanganan pengungsi sudah terorganisasi dengan terpusat pada satu titik dengan alasan efisiensi.

"Jadi kita bisa bangunkan fasilitas kebutuhan air bersih, membangun MCK komunal, membangun dapur umum, dan bisa melaksanakan masakan anak bayi dan anak," kata Yurianto.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah Reni Lamajino mengatakan ASN di Dinas Kesehatan yang sudah mulai bekerja pada hari pertama masuk kerja, Senin (8/10) sekitar 40 persen. Reni menargetkan hingga pekan depan 90 persen ASN bidang kesehatan di Sulawesi Tengah sudah masuk bekerja untuk menjalankan fungsi layanan kesehatan.

(kid)