TNI Catat 75 Ribu Orang Eksodus dari Palu Usai Gempa

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 09/10/2018 21:13 WIB
TNI Catat 75 Ribu Orang Eksodus dari Palu Usai Gempa Warga terdampak gempa dan tsunami menunggu masuk ke dalam pesawat untuk dievakuasi di Palu, Sulawesi Tengah. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Panglima Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) TNI Mayjen Tri Suwandono mencatat sekitar 75 ribu orang telah keluar dari wilayah Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi usai bencana gempa dan tsunami menerjang ketiga wilayah tersebut pada 28 September 2018.

"Tujuan mereka beragam, mulai dari Makassar, Kendari, Gorontalo, Jakarta, Bandung, dan lain-lain," kata Tri berdasarkan keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com pada Selasa (9/10).

Tri mengimbau agar masyarakat yang keluar, kembali lagi ke Palu, Donggala dan Sigi.


Ia juga mengingatkan agar masyarakat yang hendak keluar dari ketiga wilayah tersebut agar mengurungkan niatnya. Sebab, Tri mengklaim kondisi perekonomian dan pelayanan publik sudah mulai bangkit usai diterpa bencana gempa dan tsunami yang memporak-porandakan kehidupan masyarakat di daerah tersebut.

"Jangan eksodus karena ekonomi sudah berjalan, bank-bank telah dibuka, rumah sakit telah operasional, listrik sudah mengalir baik, sekolah, air bersih juga sudah mulai normal," katanya.
Selain itu, Tri juga menegaskan bahwa proses penanganan tanggap darurat gempa dan tsunami sudah berjalan baik. Meskipun, ia menyadari masih banyak kekurangan dalam penanganannya.

"Karena memang bencana kali ini begitu masif, dimana terjadi tiga bencana yakni tsunami, gempa bumi, dan likuifaksi," kata Tri.

Kata Tri, saat ini pihaknya masih berupaya untuk membenahi beberapa akses jalan yang belum bisa ditembus agar proses penanganan bencana dapat berjalan baik.

Ia mengatakan prioritasnya saat ini untuk menolong dan mengevakuasi masyarakat yang belum tersentuh pertolongan dan bantuan sama sekali di tiga wilayah tersebut

"Memang kalau dilihat kondisi darurat hanya dua minggu, namun yang menjadi prioritas kita adalah bagaimana menolong masyarakat yang menjadi korban bencana gempa bumi dan tsunami terlebih dahulu," ujar Tri.
(rzr/ugo)