PKS Anggap 'Kepungan' ke Prabowo Jadi Tantangan di Pilpres

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 11/10/2018 19:55 WIB
PKS Anggap 'Kepungan' ke Prabowo Jadi Tantangan di Pilpres Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid. (CNN Indonesia/Joko Panji Sasongko).
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid menganggap 'kepungan' yang ditujukan kepada calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto merupakan bentuk tantangan yang harus dihadapi di Pilpres 2019.

"Beliau [Prabowo] sebagai seorang pejuang dan seorang petempur pernah menjadi Panglima Kostrad itu malah asyik untuk beliau. Kalau orang semacam beliau kemudian enggak punya tantangan, malah enggak asyik," kata Hidayat di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (11/10).

Anggapan Prabowo dikepung dari berbagai sektor sebelumnya diungkapkan Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani. Menurut Muzani, pilpres kali ini menjadi pilpres terberat Prabowo.


Merujuk itu, Hidayat menduga pernyataan Muzani untuk membangkitkan semangat juang di kubu Prabowo, sekaligus bagian dari pemetaan masalah.

Sebab, bagi Hidayat salah satu faktor 'kepungan' yakni dugaan mobilisasi kepala daerah untuk mendukung petahana Joko Widodo maupun keberpihakan sejumlah media, harus dikritisi.

"Belum lagi masalah para konglomerat yang dulu dalam konteks Pilgub DKI ada istilah sembilan naga ya dan ini kan mirip, juga terjadi," katanya.

Begitu pula kata dia, lembaga survei yang cenderung berpihak ke Jokowi. "Itu adalah bagian dari tantangan yang memang harus diatasi dan saya yakin Pak Prabowo dapat mengatasi," katanya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menilai Pilpres 2019 yang diikuti Prabowo Subianto untuk kali ketiga merupakan yang terberat dari Pilpres 2009 dan 2014.

Pada pilpres kali ini, kata dia, koalisi pendukung merasakan Prabowo dikepung dari berbagai sektor.

"Kami merasakan terus terang ini adalah bobot terberat beliau [Prabowo] menjadi calon presiden. Jadi kami merasa bahwa Prabowo saat ini dikepung," kata Muzani di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (10/10). (osc)