PA 212: Kami Ikuti Fatwanya, Bukan Pimpinan MUI

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 13:40 WIB
PA 212: Kami Ikuti Fatwanya, Bukan Pimpinan MUI PA 212 tak mempersoalkan kabar sejumlah alumni 212 mendeklarasikan dukungan kepada Joko Widodo dan Ma'ruf Amin di Pilpres 2019. (Foto: CNN Indonesia TV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Umum Persaudaraan Alumni 212 Bernard Abdul Jabbar tak ambil pusing dengan kabar sejumlah alumni 212 mendeklarasikan dukungan kepada Joko Widodo dan Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.

Menurutnya, PA 212 tetap akan solid mengawal fatwa untuk tak memilih pemimpin yang ingkar ketimbang berada di kubu yang sama dengan Ketua Majelis Umum Indonesia (MUI).

Pernyataan itu disampaikan untuk merespons klaim Razman Arief Nasution yang mengatakan bahwa publik tergiring opini yang dibangun PA 212 lewat ijtimak Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) ulama untuk mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Padahal awalnya, GNPF dibangun untuk mengawal fatwa MUI yang dipimpin Ma'ruf Amin.


"Dengan sendirinya kita GNPF dulu itu mengawal fatwa MUI, sekarang ada fatwa MUI yang melarang pemimpin yang ingkar janji walaupun sosok ketua MUI kemudian ada di kubu Jokowi. Tetapi kami kan tidak harus ikuti orangnya [pemimpinnya], tapi harus tetap patuhi fatwa MUI, bukan orangnya sekalipun dia melanggar fatwanya sendiri," ujar Bernard saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (12/10).

Razman sebelumnya membeberkan bahwa ratusan eks peserta aksi 212 mendukung Jokowi-Maruf. Sejumlah tokoh yang tergabung di dalam kelompok relawan itu, di antaranya Imam Anshori, Lukman Edy, Muhammad Kapitra Ampera, Ustaz Kholid Hidayat, Ustaz Kurtubi Al Bantani, Ustaz Sulaeman, hingga Ustaz Sayuti.

MUI diketahui telah mengeluarkan fatwa mengenai masalah strategi kebangsaan dengan mengharamkan pemimpin yang mengingkari janji dan boleh menaati pemimpin yang memerintahkan sesuatu yang dilarang agama sejak 2015.

Bernard mengatakan pihaknya tak mengikuti Ma'ruf karena seorang ulama adalah manusia biasa. Sementara fatwa telah disepakati dan bisa dikawal oleh orang yang ingin menjalankannya.

"Kami sudah solid mendukung presiden yang dipiih oleh ulama bukan mendukung ulama yang dipilih oleh presiden," imbuhnya.

Selain itu, dia juga melihat bahwa peserta deklarasi tersebut jumlahnya jauh lebih kecil dari jaringan PA 212 yang sejalan dengan Rizieq Shihab di seluruh Indonesia. Dia tak masalah jika segelintir orang yang mengaku sebagai eks 212 itu ke kubu Jokowi.

"Kami tidak bisa mengatakan apa-apa jika orang-orang termasuk Kapitra dan sebagainya itu mendukung Jokowi. Bagi 212 tidak masalah karena hanya segelintir orang. Kami hormati dan hargai, junjung tinggi perbedaan itu. Tapi saya sebagai seketaris umum PA 212 mengatakan kami tetap solid dan istiqomah mengawal fatwa dan mengikuti arahan Imam Besar Rizieq Shihab," paparnya.

Menurut dia, Rizieq pernah mengatakan bahwa memang dalam perjalanan untuk memperjuangkan kebaikan dalam Islam akan ada orang tersaring dan berpindah karena memiliki maksud lain. Hanya mereka yang istiqomah dan ikhlas yang akan tetap lurus. (kst/gil)