Mabes Polri: Jelang Pilpres, Setiap Hari Ada Ribuan Hoaks

tim , CNN Indonesia | Senin, 15/10/2018 14:35 WIB
Mabes Polri: Jelang Pilpres, Setiap Hari Ada Ribuan Hoaks Kadiv Humas Mabes Polri Setyo Wasisto ungkap berita hoaks makin banyak. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto meyakini hoaks atau berita bohong jelang pemilihan presiden (pilpres) 2019 akan semakin banyak. Ia memprediksi ada ribuan hoaks yang terus muncul, khususnya melalui media sosial.

"Hoaks itu banyak sekali. Setiap hari ada ribuan hoaks. Saya yakin makin banyak nanti," ujar Setyo saat ditemui di Auditorium PTIK, Jakarta, Senin (15/10).

Setyo lantas membandingkan dengan hoaks yang muncul selama masa gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu. Ia mencatat ada sekitar 14 hoaks cukup parah yang terjadi saat itu.


"12 sudah kita tangkap. Itu masalah bencana saja, belum nanti jelang pilpres dan pileg," katanya.


Jenderal bintang dua itu menyatakan bakal meredam penyebaran hoaks melalui literasi digital. Setyo juga mengklaim terus melakukan pendekatan langsung kepada seluruh masyarakat.

"Kita akan ajak bersama untuk melawan hoaks. Kita cegah jangan sampai hoaks jadi satu bagian dari kehidupan karena bisa menimbulkan kekacauan," katanya.

Di sisi lain, Setyo juga memastikan kepolisian di seluruh wilayah bakal dikerahkan untuk mengamankan pelaksanaan pilpres tahun depan. Pihaknya juga rutin melakukan komunikasi dengan pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung.

"Kita ada pengamanan juga, kita tempatkan di sana. Artinya kita tetap memantau keamanan beliau-beliau sampai pelaksanaan nanti," tuturnya.


Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menjelaskan bahwa untuk menjerat pelaku pembuat berita hoaks bisa dilakukan baik dengan aduan ataupun tanpa adanya aduan.

"Ada yang perlu delik aduan ada yang tidak perlu," jelasnya Sabtu (13/10).

Lebih lanjut, menurutnya pelaku hoaks yang bisa dijerat tanpa aduan jika konten yang dibuat meresahkan masyarakat, seperti pornografi. Hal serupa juga berlaku untuk pembuat hoaks yang menyebarkan berita bohong mengenai sebuah bencana, misal hoaks yang terjadi pada gempa Palu kemarin.

"Kita kerjasama dengan Direktorat Cyber Polri. Di sana mereka melihat ini unsurnya memenuhi atau tidak (untuk diproses pengadilan. Kalau unsurnya memenuhi, maka akan dikejar, ditangkap," lanjut Rudi.

(pris/DAL)