Pose Luhut dan Sri Mulyani di Pertemuan IMF Dibawa ke Bawaslu

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 18/10/2018 05:45 WIB
Pose Luhut dan Sri Mulyani di Pertemuan IMF Dibawa ke Bawaslu Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria menyatakan partainya berencana melaporkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani ke Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu). Penyebabnya adalah soal pose telunjuk dalam ajang pertemuan Dana Moneter Dunia (IMF)-Bank Dunia (World Bank) beberapa waktu lalu, dianggap politis dan merujuk kepada pasangan calon Pilpres 2019 nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Luhut dan Sri Mulyani berpose jari telunjuk bersama Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde, saat upacara penutupan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia.

"Kami akan laporkan ke bawaslu apa yang dilakukan Pak Luhut dan Sri Mulyani," tutur Riza di kantor KPU, Jakarta, Rabu (17/10).
Menurut Riza, mestinya Luhut dan Sri Mulyani memberi teladan. Pejabat negara, lanjutnya, harus mampu membedakan dimana dan kapan untuk berkampanye dan menyampaikan hasil kinerja.


"Apalagi kepada orang asing di forum IMF yang biayanya sangat mahal. Sangat tidak bijaksana," kata Riza.

Riza mengatakan sikap yang ditunjukkan Luhut dan Sri Mulyani jelas tidak bijak sebagai pejabat negara. Pula, tidak profesional.

"Berpihak pada calon. Harusnya pejabat netral," ujar Riza.

Pose jari telunjuk terjadi di akhir acara, saat Lagarde dan Jim bersama Luhut, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berfoto bersama. Luhut menjelaskan kepada wartawan, pose tersebut tak terkait dengan urusan politik.

Pose jari telunjuk itu dianggap perlambang dukungan terhadap pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Jokowi-Ma'ruf mendapatkan nomor urut 01 dalam Pilpres 2019.
Luhut mengatakan pose tersebut bermakna kedua lembaga internasional mengapresiasi penyelenggaraan pertemuan IMF-WB yang dihelat di era Presiden Jokowi. Menurut Luhut, pose itu artinya Indonesia nomor satu. (bmw/ayp)