Siswa Korban Likuefaksi Petobo Butuh Tenda untuk Sekolah

Antara, CNN Indonesia | Senin, 22/10/2018 13:26 WIB
Siswa Korban Likuefaksi Petobo Butuh Tenda untuk Sekolah Guna melanjutkan kegiatan belajar mengajar pascagempa Sulteng, di wilayah terdampak gempa dan likuefaksi membutuhkan bantuan tenda untuk sekolah darurat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah guru di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Sulawesi Tengah, membutuhkan tenda untuk pembinaan siswa-siswi di lokasi terdampak gempa dan likuefaksi.

"Tenda masih kurang. Saat ini yang ada hanya satu tenda yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," kata salah satu guru SDN 1 Petobo, Marlina seperti dikutip dari Antara, Senin (22/10),

Sejauh ini, kegiatan belajar dan mengajar untuk siswa-siswi korban gempa dan likuefaksi belum berjalan efektif. Pemerintah hanya menyediakan satu tenda milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dibangun di bagian timur Kelurahan Petobo yang berada dekat perbatasan dengan Desa Ngatabaru, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi.


"Kami siap mengajar, namun kondisi ini agak sulit, karena sarana dan prasarana tidak tersedia, buku pelajaran tidak ada. Semua berkas kependidikan hilang," ujar Asman Maratonji, guru SD Inpres Petobo.


Saat gempa dan likuefaksi melanda Kelurahan Petobo, seluruh bangunan gedung sekolah dan administrasi hancur total terseret lumpur.

Di Kelurahan Petobo terdapat lima sekolah dasar meliputi SD Inpres Petobo, SDN 2 Petobo, SDN 1 Petobo, SD Iqra milik Yayasan Bina Potensi, SD Al-akbar.

Lima dari sekolah tersebut, hanya SD Inpres Petobo yang tidak terdampak likuefaksi. Bangunan masih utuh berdiri, namun retak dan tidak layak digunakan. Atas dasar itu, dibutuhkan penambahan tenda untuk keberlangsungan kegiatan pembinaan untuk pendidikan siswa-siswi korban gempa dan likuefaksi di Kelurahan Petobo.

Siswa Korban Tanah Likuefasi Petobo Butuh Tenda untuk SekolahWarga berjalan di antara tenda tempat tinggal terpadu bagi pengungsi terdampak gempa di Loli Saluran, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, 13 Oktober 2018. (ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang)

Tenda Bantuan Badan PBB

Sementara itu, sejumlah sekolah di Kota Palu dan Kabupaten Sigi belajar di tenda bantuan Unicef, salah satu organisasi PBB yang peduli dengan korban bencana alam gempa dan tsunami di Provinsi Sulawesi Tengah.

Beberapa di antaranya digunakan murid SD Inti VI Lolu, Kecamatan Palu Timur. Mereka belajar di dalam tenda berukuran 6x12 meter.

Kondisi sama juga terlihat di SD Lolu dan SMP Negeri 1 Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Dua sekolah itu mengalami rusak berat dan tidak layak lagi dipertahankan sebagai tempat belajar-mengajar.

"Kami terpaksa sementara ini belajar di tenda bantuan Unicef," kata salah seorang guru SMPN 1 Sigi Biromaru yang enggan disebut namanya.

Pascagempa dan tsunami di Sulteng, Kemendikbud sedang mengupayakan pembangunan 333 unit sekolah darurat untuk mengakomodasi kegiatan belajar-mengajar bagi siswa-siswi terdampak bencana.

Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Poppy Dewi Puspitasari mengatakan selain dari pihaknya, Unicef juga akan memberikan bantuan tenda untuk sekolah.

"Tenda masih dalam perjalanan nanti distribusinya tentunya setelah kita melakukan pendataan," tuturnya.

Siswa Korban Tanah Likuefasi Petobo Butuh Tenda untuk SekolahAnak pengungsi gempa dan tsunami Palu bermain di tempat pengungsian di halaman kantor Dinas Sosial Sulteng di kota Palu, Sulawesi Tengah, 11 Oktober 2018. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)

Akibat gempa dan tsunami Sulteng pada 28 September lalu, sekitar 186 ribu peserta didik di 1.724 satuan pendidikan dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, SMK terganggu dalam layanan pendidikan di tiga daerah terparah yaitu Kota Palu, Donggala, dan Sigi.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulteng mencatat hingga 13 Oktober 2018, terdapat 1.141 sekolah terdampak, sebagian besar di Donggala, yakni 494 sekolah. Lalu, di Kota Palu 328 sekolah, Sigi 228 sekolah, dan Parigi Moutong 91 sekolah.

Ruang kelas yang rusak berat tercatat mencapai 1.150 ruang, rusak sedang 1.993 ruang, dan rusak ringan 2.594 ruang.

Jumlah siswa terdampak masing-masing 64 meninggal dunia, 115 hilang, enam luka berat, 103 dirawat inap, dan 46.730 orang mengungsi dan siswa yang orang tuanya meninggal 835 orang.

Jumlah guru terdampak bencana, masing-masing 23 orang meninggal dunia, 18 orang hilang, tiga orang luka berat, 211 rawat inap, 3.455 mengungsi, dan 131 orang rumahnya hancur.

(kid/gil)