Soal Politikus Sontoloyo, Gerindra Nilai Jokowi Tertekan

CNN Indonesia | Rabu, 24/10/2018 18:02 WIB
Soal Politikus Sontoloyo, Gerindra Nilai Jokowi Tertekan Presiden Joko Widodo. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Gerindra menilai pernyataan Presiden Joko Widodo terkait politikus sontoloyo menandakan dia sedang tertekan. Mereka menduga mantan Gubernur DKI Jakarta itu terusik lantaran harus memenuhi sejumlah janji-janji politiknya.

"Beliau [Jokowi] mungkin agak stres, stres banyak janji-janji yang belum dipenuhi, stres harus memenangkan sehingga keluar kata-kata seperti itu, kata-kata sontoloyo," kata Ketua DPP Partai Gerindra Sodik Mudjahid di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (24/10).

Indikasi Jokowi mulai tertekan, kata Sodik, terlihat saat membacakan sambutan dalam acara Partai Golkar. Jokowi meminta para politikus tidak menggunakan politik kebohongan.


Selain karena tekanan, kata Wakil Ketua Komisi VIII DPR ini, banyak pihak melihat Jokowi mulai kehilangan kesantunannya saat berpolitik.
"Karena dalam keadaan stres, katanya, Jokowi yang terkenal santun sekarang sudah mulai tidak santun lagi. Mungkin karena beliau under pressure," ujar dia.

Di sisi lain, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly yang juga seorang politikus PDI Perjuangan ikut angkat bicara mengenai pernyataan Jokowi soal politikus sontoloyo.

Menurut Yasonna, pernyataan Jokowi itu muncul lantaran saat ini banyak politikus yang asal berbicara atau menyampaikan pendapat.

"Itu kan sekarang ini orang-orang kan asal sembur saja gitu, membuat informasi yang tidak benar. Saya kira seperti beliau Pak Presiden katakan, mari berpolitik secara beradab," kata Yasonna terpisah.

Yasonna menambahkan dalam politik tetap harus mengedepankan etika serta keadaban dan bukan menunjukkan saling serang.
Presiden Joko Widodo sebelumnya meluruskan kembali maksud dari politikus sontoloyo yang sempat dia singgung. Jokowi berpendapat yang dimaksud politikus sontoloyo merupakan politisi yang menggunakan segala upaya jelang tahun politik.

Ciri-ciri politikus sontoloyo, kata Jokowi, adalah politikus yang menyerang lawan politik tanpa tata krama.

"Jelang Pemilu, banyak cara-cara tidak sehat digunakan politisi. Segala jurus dipakai untuk memperoleh simpati rakyat. Yang enggak baik sering menyerang lawan politik dengan cara tak beradab, tidak ada tata kramanya," kata Jokowi di ICE Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan hari ini.

Salah satu contoh yang disebutkan kemarin adalah politisasi dana kelurahan. Kebijakan dana kelurahan dinilai oposisi politis karena dilakukan jelang Pemilihan Presiden 2019 yang diikuti Jokowi selaku petahana.
Padahal, kata Jokowi, kebijakan dibuat karena mendengar keluhan lurah kepada wali kota yang merasa timpang dengan desa. Sejak 2015, pemerintah menyuntik dana desa untuk meningkatkan perekonomian warganya.

"Saya ingatkan ini saya kira bukan zamannya lagi menggunakan kampanye misalnya politik adu domba. Sekarang zamannya politik adu program, ide, dan gagasan," ujar Jokowi. (swo/ayp)