Skala 1-100, Indeks Kesehatan Laut Bali Nilainya 51

CNN Indonesia | Kamis, 01/11/2018 03:46 WIB
Skala 1-100, Indeks Kesehatan Laut Bali Nilainya 51 Ilustrasi Laut Bali. (AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Kesehatan Laut Bali atau Ocean Health Index (OHI) mencapai nilai 51 dari skala 1 hingga 100.

Manajer Consevation International Pulau Bali I Made Iwan Dewantama mengatakan tafsir atas nilai indeks itu menjadi pekerjaan rumah untuk membenahi lingkungan laut di pulau Dewata tersebut. Salah satunya, kata Iwan, terkait konservasi terumbu karang yang juga dinilai masih rendah.

"ada beberapa hal yang harus diperbaiki," tutur Iwan ditemui di kawasan Nusa Dua, Bali, Selasa (30/10) malam.


Nilai 51 yang dikeluarkan tersebut memang belum mencapai angka sempurna atau tinggi. Untuk perhitungannya sendiri, semakin tinggi nilainya, maka semakin bagus kualitas perairannya.

"Jadi memang diharapkan mendapat nilai tinggi," kata dia.


OHI Bali merupakan proyek pionir (pilot project) tingkat provinsi yang pertama kali diluncurkan di Indonesia. Untuk menentukan OHI Bali tersebut, tim pengukur terdiri atas peneliti dari 13 lembaga baik pemerintah, LSM, maupun universitas.

Tim itu sendiri mulai bekerja secara resmi sejak 2016 dan telah dikukuhkan sebagai Tim Teknis melalui Keputusan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Pesisir dan Laut No.53/BALITBANG KP.2/XII/2016.

Seluruh tim menghimpun dan menyiapkan data berkelanjutan (time series) yang dibutuhkan untuk menyusun OHI, di mana data minimal yang dibutuhkan adalah selama 5 tahun terakhir.

Seharusnya ada 10 sasaran yang digunakan sebagai parameter pengukuran, namun hanya 9 yang dipakai di Bali.

Untuk rincian nilainya yaitu Turisme dan Rekreasi dengan nilai 46, Perikanan Tradisional nilai 37, Keanekaragaman Hayati 94, Penyimpanan Karbon 24, Perlindungan Pantai 35, Penyediaan Pangan 59, Orientasi Tempat 40, Produk Alami 40, dan Perairan Bersih 79.

"Memang yang paling kecil itu di penyimpanan karbon yang justru penting untuk terumbu karang," kata Iwan.

Lebih lanjut Iwan juga menjelaskan, dari sembilan parameter yang diukur tersebut diprediksi ada yang akan memiliki nilai menurun, tetap, dan meningkat.

Ia mengatakan parameter Penyimpanan Karbon menunjukkan kecenderungan tetap, sedangkan Keanekaragaman Hayati dan Perikanan Tradisional memiliki kecenderungan menurun. Dan, enam parameter lain diproyeksikan meningkat.

Iwan mengatakan di masa mendatang hasil riset ini bisa digunakan sebagai alat untuk mengelola laut di Bali, karena data yang diberikan cukup komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Kita harapkan akan dibuat setiap satu tahun sehingga akan lebih jelas kegunaannya untuk mengukur model pengukuran kualitas lautan kita," ujarnya.

(tst/kid)