Dari 13 penyelam yang dicek kesehatannya saat itu, salah seorang dilarang untuk turut menyelam. Pasalnya penyelam tersebut memiliki tekanan darah 150/100 sehingga tidak diperbolehkan menyelam dan digantikan penyelam lain yang kondisinya lebih prima.
"Kalau kita turunkan penyelam yang lagi sakit, sama saja kita bunuh mereka," ujar Wakil Ketua Tim Penyelam Dislambair Mayor Laut (S) Thomas DF, di atas KRI Rigel, Kamis (1/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thomas mengatakan tes kesehatan sebelum melakukan penyelaman dalam rangka proses evakuasi Lion Air JT-610 wajib diikuti para penyelam dari Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) TNI AL.
Thomas menuturkan selain pengecekan tekanan darah, para penyelam juga wajib melakukan pengecekan alat sebelum melakukan tugasnya.
Pengecekan alat tersebut di antaranya mengecek tabung oksigen serta sejumlah alat selam lainnya.
Rencananya, para penyelam dari Dislambair tersebut akan dibagi ke dua titik pencarian. Titik pertama, pasukan penyelam yang berada di Kapal LCU KRI Banda Aceh 593-1 akan menyusuri lebih lanjut titik yang telah diselami kemarin sore. Dari titik tersebut, para penyelam telah menemukan berbagai benda yang berasal dari pesawat Lion Air tujuan Jakarta-Pangkal Pinang tersebut.
Untuk titik kedua, penyelam menggunakan Kapal Sounding Vessel (SV) KRI Rigel 933-1 yang akan menyusuri titik baru yang berjarak sekitar 90 meter dari titik kemarin.