Mental Usang Sopir Metromini di Bus Baru Minitrans

Setyo Aji, CNN Indonesia | Kamis, 29/11/2018 15:03 WIB
Mental Usang Sopir Metromini di Bus Baru Minitrans Bus Minitrans mengalami kecelakaan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bus Minitrans jurusan Blok M-Manggarai terguling di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Armada milik PT Transjakarta itu melaju dengan kecepatan tingi sebelum akhirnya mengerem mendadak dan menabrak pembatas jalan. Bus pun terjungkal.

Insiden pada 20 September 2018 itu merupakan kecelakaan perdana Minitrans --bus ukuran sedang yang dikelola secara swadaya oleh sejumlah pengusaha.

Maruli Simanjuntak (52) sopir Minitrans ini mengemudi dalam kondisi mengantuk.


Menurut Benget Simanjuntak (57), rekan seprofesi Maruli, kecelakaan itu bukan murni kesalahan sopir. Maruli sempat bercerita kepada Benget bahwa kondisi badannya tak memungkinkan untuk mengemudikan bus ketika itu.

Namun saat hendak istirahat di Terminal Blok M, petugas PT Transjakarta meminta Maruli melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Manggarai. Maruli pun diminta petugas beristirahat di Manggarai saja.

Begitu sampai di Manggarai, kata Benget, Maruli justru diminta lanjut lagi ke Blok M.

"Lantaran matanya sudah enggak kuat waktu itu, dia mau injak rem malah injak gas, tergulinglah itu mobil," kata Benget menceritakan kisah rekannya.

Sebagian besar sopir Minitrans adalah bekas pengemudi Metromini. Gaya mengemudi ugal-ugalan kadang masih terbawa saat mengendarai bus milik PT Transjakarta itu. Benget yang pernah menjadi sopir Metromini selama 27 tahun pun mengakuinya.

"Di awal, kami gemas. Kadang bawa [Minitrans] di atas kecepatan yang ditetapkan," ujar Benget.

Jiwa Lama Metromini Membekas di Minitrans [EMBG-8]Sejumlah sopir Metromini menunggu penumpang di Terminal Blok M, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Roni Ade Tunggara, sopir Minitrans, juga sama. Tiga bulan awal, dia memacu bus milik PT Transjakarta itu di atas 50 kilometer per jam. Jiwa sopir Metromini masih sulit ditinggalkan.

"Dulu masih kebawa gaya-gaya menyopir Metromini yang ugal-ugalan," tutur Roni yang sudah 10 bulan menjadi sopir Minitrans.

Beberapa penumpang Minitrans, Nila Kusumasari (24) dan Samuel Pablo (26), pun dibuat waswas ketika Minitrans yang ditumpangi melaju dengan kecepatan di atas 50 kilometer per jam.

"Kondisinya waktu itu agak macet, agak selap-selip waktu itu sopirnya, tapi masih di batas kewajaran," ujar pegawai swasta agensi periklanan ini.

Meski demikian, bagi Pablo dan Nila gaya mengemudi sopir Minitrans masih bisa ditoleransi jika dibandingkan naik Metromini.

Usai kecelakaan nahas yang dialami Maruli, seluruh pengemudi Minitrans diminta mengikuti tes kesehatan terutama tes narkoba untuk memastikan para sopir mengemudi dengan baik.

Berdasarkan data Polda Metro Jaya sepanjang Januari hingga September 2018 sudah ada 44 insiden kecelakaan lalu lintas yang dialami bus Transjakarta. Mayoritas kecelakaan disebabkan karena kesalahan manusia.
Jiwa Lama Metromini Membekas di Minitrans [EMBG-8]Sopir Metromini banyak yang beralih ke Minitrans, proyek revitalisasi PT Transjakarta. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Sertifikasi Sopir

Sebelum resmi menjadi sopir Minitrans, Roni dan sejumlah rekannya diberi pembekalan dan pelatihan oleh PT Transjakarta. Tujuannya agar para sopir paham mengenai Standar Pelayanan Minimum yang dipegang Transjakarta.

Roni bercerita, para sopir diajari cara mengemudi yang tertib maupun cara berhenti di halte bus Transjakarta.

"Kami sempat diberi pelatihan, disuruh lihat cara bawa mobil Transjakarta. Nanti kami dikasih bawa satu rit, kalau belum benar disuruh ulang lagi, belajar lagi," katanya.

Namun, menurut Roni bukan pelatihan yang membuat sopir berhenti ugal-ugalan, melainkan ancaman denda berupa pengurangan penghasilan dari perusahaan.

Saat CNNIndonesia.com menumpang bus yang dikemudikan Roni, Minitrans tak pernah melaju di atas 50 kilometer per jam. Saat lalu lintas macet pun, Roni lebih memilih sabar mengantre daripada menyalip.

Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan DKI Jakarta Masdes Aroufi menuturkan pihaknya bakal melakukan sertifikasi kepada para pengemudi angkutan umum terintegrasi PT Transjakarta agar tidak ugal-ugalan. Bentuknya berupa Sertifikat Pengemudi Angkutan Umum (SPAU).

Upaya sertifikasi ini, kata Masdes merupakan bagian dari program revitalisasi bus sedang di Jakarta. Sebelum bergabung mereka akan diberikan kursus, mulai dari cara mengemudi hingga melayani penumpang.

"Jadi selain SIM umum, dia harus punya SPAU (standar pelayanan angkutan umum)," tutur Masdes.

Selain sertifikasi, PT Transjakarta dan Pemprov DKI Jakarta juga sudah menerapkan sistem denda apabila melanggar Standar Pelayanan Minimum.

"Ada sanksi, ada punishment. Kalau dulu dia merokok bisa, sekarang potong Rp30 ribu, enggak pakai seragam potong Rp30 ribu hari, jadi fair. Kami bayar dengan UMP, kasih BPJS tapi ya ikut aturan mainnya," kata Masdes. (pmg/pmg)