Belasan Ribu Personel Gabungan Akan Amankan Aksi Bela Tauhid

CNN Indonesia | Jumat, 02/11/2018 13:10 WIB
Belasan Ribu Personel Gabungan Akan Amankan Aksi Bela Tauhid Wakapolri menyatakan sebanyak 14 ribu personel gabungan TNI dan Polri disiapkan guna mengamankan Aksi Bela Tauhid yang rencananya digelar siang hari ini (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 12 ribu personel gabungan dari TNI dan Polri akan diturunkan untuk melakukan pengamanan saat digelarnya Aksi Bela Tauhid Jilid II yang akan berlangsung hari ini pada pukul 13.00 WIB di seberang Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan 12 ribu pasukan tersebut telah mengikuti apel pengamanan yang berlangsung pagi ini. Belasan ribu pasukan tersebut dikerahkan lantaran massa aksi yang diperkirakan mencapai 10 ribu.

"Pengamanan oleh 12 ribu personel gabungan TNI-Polri," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com.



Pengamanan juga berkaitan dengan situasi arus lalu lintas yang terjadi saat aksi berlangsung. Namun, Argo mengatakan untuk pengalihan arus lalu lintas sendiri akan dilakukan melihat situasi dan kondisi yang terjadi saat aksi tersebut.

"Arus lalin situasional melihat kondisi di lapangan," tuturnya.

Surat pemberitahuan kepada polisi juga telah diterima oleh Polda Metro Jaya. Dalam surat itu tertulis aksi akan dilakukan pada pukul 13.00-18.00 WIB.

Wakapolri Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto meminta agar warga yang berasal dari luar wilayah tak perlu berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Aksi Bela Tauhid Jilid II.

"Jadi diimbau untuk tidak ke Jakarta. Yang di Jakarta juga kalau menyampaikan harapan dengan tertib lah kira-kira gitu," ucapnya di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta Pusat, kemarin.

14 Ribu Personel Gabungan Akan Amankan Aksi Bela TauhidAri Dono Sukmanto. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Ari Dono menambahkan jajarannya dan pihak TNI telah melakukan imbauan serupa kepada masyarakat agar tak perlu ikut-ikutan aksi tersebut.

Sebab, dua pelaku pembakaran bendera sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.

"Intinya kita sudah melaksanakan imbuan-imbauan supaya tidak perlulah berangkat ke Jakarta toh harapan mereka untuk proses penegakan hukum sudah kita laksanakan juga," ujarnya.

Terlebih lagi, kata dia, Indonesia saat ini sedang menghadapi berbagai terpaan musibah bencana alam di Lombok-NTB dan Palu Sulawesi Tengah, serta jatuhnya pesawat Lion Air.

"Ya kita ini sedang berkabung, ada bencana di Lombok, ada bencana di Palu, baru saja lagi ada bencana Lion Air, kalau ada [aksi] seperti ini kok kayaknya kurang berempati menurut saya sih ya," kata dia.



Aksi Bela Tauhid sendiri merupakan buntut dari pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama di Garut. Pembakaran terjadi saat perayaan hari santri di daerah Limbangan, Garut, pada Senin (22/10).


Menanggapi polemik bendera tauhid yang terjadi, pada malam 26 Oktober 2018, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga Ketua Dewan Mesjid Indonesia (DMI) mengumpulkan ormas-ormas Islam di rumah dinasnya.

Hasil pertemuan di rumah dinas JK pada 26 Oktober lalu, mereka yang bertemu bersepakat menjaga perdamaian usai ada Aksi Bela Tauhid yang berlangsung pada siang harinya. Mereka yang hadir di antaranya Ketua MUI Ma'ruf Amin, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir Ketua PBNU Said Aqil Siradj, Ketua Syarikat Islam Hamdan Zoelva, dan Dewan Penasihat Pimpinan Pusat Persatuan Islam Indonesia (Persis) Maman Abdurahman.

Usai pertemuan di rumah JK, Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nasir menyatakan semua pihak sepakat untuk mengedepankan cara merekatkan kebersamaan di tubuh bangsa ini di tengah tahun politik.

"Kita juga ingin ada suasana kondusif," kata Haedar saat itu.

14 Ribu Personel Gabungan Akan Amankan Aksi Bela TauhidWakil Presiden Jusuf Kalla saat mengundang sejumlah pimpinan ormas Islam ke rumah dinasnya di kawasan Menteng, Jakarta, Jumat (26/10). (Dok. Biro Setwapres)

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi mengakui perbedaan persepsi memang mengemuka dalam pertemuan sekitar 3,5 jam di rumah JK tersebut. Namun, itu terus didiskusikan hingga muncul lima butir kesepakatan yang lalu dibacakan JK selaku tuan rumah pertemuan. Salah satunya soal bendera pada butir kedua dan ketiga.

"Para Pimpinan ormas Islam yang hadir menyesalkan terjadinya pembakaran bendera di Garut dan sepakat untuk menjaga suasana kedamaian serta berupaya meredam situasi agar tidak terus berkembang ke arah yang tidak diinginkan," bunyi poin 2.

"Dalam upaya menyelesaikan dan mengakhiri masalah ini, oknum yang membakar dan membawa bendera telah menyampaikan permohonan maaf. Pimpinan GP Anshor serta Nahdlatul Ulama menyesalkan peristiwa tesebut dan telah memberikan sanksi atas perbuatan yang melampaui prosedur yang telah ditetapkan dan berharap tidak terulang kembali," bunyi poin 3.

(rzr/kid)