Prabowo soal Setop Impor Dinilai Tiru Donald Trump

CNN Indonesia | Senin, 05/11/2018 19:09 WIB
Prabowo soal Setop Impor Dinilai Tiru Donald Trump Calon Presiden Prabowo Subianto. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/kye/18)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy menilai pernyataan calon presiden Prabowo Subianto tentang janji menghentikan impor merupakan bentuk kebohongan yang nyata.

Romi, sapaan Romahurmuziy, semakin meyakini bahwa cara Prabowo menyampaikan hal-hal tersebut merupakan upaya untuk meniru strategi Donald Trump saat mengikuti pilpres Amerika Serikat.

"Apa yang disampaikan Pak Prabowo itu bagian yang disebut sebagai obvious lies, kebohongan yang nyata. Itu diadopsi dari strategi Trump karena dia juga obvious lies," ujar Romi saat ditemui di istana wakil presiden Jakarta, Senin (5/11).
Menurut Romi, mustahil di negara mana pun untuk tidak melakukan impor. Apalagi sejumlah barang impor yang masuk ke Indonesia termasuk dalam kategori bahan baku.


"Kalau tidak ada impor kita enggak bisa ekspor, kecuali komoditas mentah. Kan enggak bisa ekspor bahan jadi kalau tidak punya bahan baku," katanya.

Anggota dewan penasihat tim kampanye Joko Widodo-Ma'ruf Amin ini mengatakan, pernyataan Prabowo justru menunjukkan upaya membodohi masyarakat Indonesia. Ia mengimbau pada capres nomor urut 02 itu agar dapat memberikan janji yang lebih realistis.

"Saya kira sebaiknya menyampaikan janji itu yang realistis, terukur, dan bisa dibuktikan," ucap Romi.

Prabowo sebelumnya menyatakan tak akan melakukan impor baik di bidang pangan hingga energi. Dia berjanji membawa masyarakat Indonesia berdiri di atas kaki sendiri dengan menjalankan swasembada pangan maupun energi.

Menurut Koordinator Juru Bicara Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, pengentian impor yang dimaksud adalah terkait komoditas dan produk primer yang seharusnya bisa dimaksilkan produksinya di dalam negeri. Ia mencontohkan di antaranya beras, jagung, singkong, tebu, dan juga garam.

Sindiran

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyatakan Joko Widodo pernah berjanji tidak akan impor jika terpilih menjadi presiden di Pilpres 2014.

Oleh karena itu, Wakil Ketua BPN Yandri Susanto merasa senang jika Jokowi tersindir karena janji Prabowo tidak akan impor jika menang Pilpres 2019.

"Apa yang disampaikan Pak Prabowo kalaupun Pak Jokowi tersindir bagus malah," ujar Yandri di Gedung DPR, Jakarta, Senin (5/11).

Yandri menuturkan janji Jokowi tidak akan impor masih tersimpan di internet. Sejumlah artikel menyebut Jokowi tidak akan impor pangan jika terpilih jadi presiden di Pilpres 2014.

Setelah Jokowi terpilih, kata dia, janji tersebut tidak terealisasi. Bahkan, ia mnilai Jokowi paling gemar melakukan impor.

"Jadi tak ada yang salah yang dikatakan Pak Prabowo," ujarnya.

Yandri mencontohkan impor yang dilakukan Jokowi, yakni impor beras, jagung, hingga garam. Impor, kata dia, dilakukan di tengah kondisi ketiga jenis bahan tersebut dalam kondisi surplus.
Bahkan, Yandi berkelakar menduga ekspor jagung yang yang dilakukan oleh pemerintah karena kelebihan impor. Sebab, ia menyebut pamerintah mengimpor jagung di tengah ekspor jagung.

"Jadi apa yang dikatakan Pak Prabowo benar dan komitmen Pak Prabowo untuk tidak impor itu layak diapresiasi," ujar Yandri.

Janji Prabowo untuk tidak impor, kata Yandri, juga bukan untuk menyerang Jokowi-Maruf Amin. Ia berkata Prabowo tengah memberi harapan kepada petani agar dapat makmur dengan memaksimalkan Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam yang dimiliki oleh Indonesia.

"Pak Prabowo menyampaikan ke masyarakat, 'pilih Pak Prabowo dengan harapan petani bisa makmur'," ujarnya.

Di sisi lain, Yandri menyinggung adanya mafia impor di sekitar pemerintah. Para mafia itu dituding mengeruk keuntungan dari impor yang dilakukan pemerintah.

Atas hal itu, Yandri menantang Jokowi untuk melenyapkan mafia impor itu. Jika tak mampu, ia berkata Prabowo dapat melakukan hal tersebut.

Yandri menyebut pemberantasan mafia impor merupakan pintu masuk menghentikan impor.

"Kalau Pak Presiden Jokowi tidak memberantas mafia ya mungkin diganti Pak Prabowo saja yang bisa memberantas mafia," ujar Yandri.
(jps/ugo)