Hal ini disampaikan Andi melalui cuitan akun Twitter @AndiArief_ menjawab tudingan Eggi yang menyebut cara berpolitik Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dengan sebutan politik banci.
Bipolarisasi yang dimaksud terkait benturan antara kelompok Islam dan Nasionalis. Eggi, kata Andi, telah terjerumus dalam nikmatnya benturan Islam dan nasionalis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
Dia kemudian mengatakan bahwa usai Pilkada DKI 2017, telah terjadi fenomena seperti fusi (penggabungan partai politik) tahun 1973. Dua kelompok lain, yakni Islam dan Nasionalis tengah pecah akibat Pilpres. Sementara Demokrat tetap jadi tengah yang sedang ditarik-tarik ke dalam dua kubu.
Oleh karena itu, kata Andi, Demokrat belajar dari pendahulu yang presidennya berupaya menghindari politik bipolar dengan cara demokratis.
"Sukarno dengan Nasakom, Soeharto dengan Fusi. Sayangnya mereka lakukan dengan paksaan dan akali UU seperti Jokowi yang mengakali parlemen dan UU serta MK untuk politik bipolar," katanya.
"Itulah mengapa terjadi kedamaian dalam multipartai dan menopang ekonomi tumbuh," kata Andi.
"Kita harus segera hijrah dari negara dengan politik bipolar menjadi negara persatuan," kata dia. (tst/osc)