Minta Maaf Tiga Kali, Prabowo-Sandi Disarankan Tobat

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 11:37 WIB
Minta Maaf Tiga Kali, Prabowo-Sandi Disarankan Tobat Capres Prabowo Subianto dan cawapres Sandiaga Uno, di kediaman Prabowo, di Jalan Kertanegara, Jakarta, 9 Agustus. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Raja Juli Antoni, menyarankan agar pasangan Prabowo-Sandiaga Uno tobat dan hijrah.

Hal itu dikatakannya merespons deretan permintaan maaf yang terlontar dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kepada publik sepanjang kampanye Pilpres 2019.

"Bagi saya Prabowo-Sandiaga tidak cukup minta maaf, mesti tobat dan hijarah," kata Antoni dalam keterangan tertulisnya, Rabu (14/11).


Diketahui, pasangan Prabowo-Sandiaga terhitung sudah tiga kali meminta maaf kepada masyarakat sepanjang gelaran kampanye pilpres.

Rinciannya, Prabowo meminta maaf sebanyak dua kali kepada masyarakat terkait kasus kabar bohong alias hoaks Ratna Sarumapet dan kasus 'tampang Boyolali'.

Baru-baru ini, Sandiaga pun turut meminta maaf kepada masyarakat karena melangkahi makam tokoh Nahdhatul Ulama (NU) KH Bisri Syansuri saat berziarah.

Melihat hal itu, Antoni menilai Prabowi-Sandi harus taubat sebagai komitmen agar tak mengulangi kesalahan kembali. Selain itu, kata dia, pasangan itu harus hijrah.

"Minta maaf tentu saja baik. Tobat adalah komitmen untuk tidak akan melakukan kesalahan lagi. Hijrah, seperti yang dikatakan Pak Jokowi, adalah perpindahan dari yang buruk menjadi baik," tuturnya.

Raja Juli, yang juga menjabat Sekjen PSI itu, pun berpendapat masyarakat mungkin akan memaafkan kesalahan yang telah dibuat Prabowo-Sandiaga. Namun, ia menilai masyarakat tak akan melupakan sikap yang sudah dilakukan pasangan tersebut.

"Mungkin rakyat akan akan memaafkan, tapi tetap mencatat dan tidak melupakan," kata dia.

Dihubungi terpisah, Juru Bicara TKN Ace Hasan Syadzily justru mempertanyakan kelayakan sosok Prabowo-Sandiaga menjadi pemimpin karena kerap kali minta maaf tanpa adanya penyesalan yang berarti.

"Apakah calon pemimpin yang selalu melakukan kesalahan dan terus menerus minta maaf itu, layak dipercaya?" tandasnya.

(rzr/arh)