Hal itu dikatakannya merespons deretan permintaan maaf yang terlontar dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kepada publik sepanjang kampanye Pilpres 2019.
"Bagi saya Prabowo-Sandiaga tidak cukup minta maaf, mesti tobat dan hijarah," kata Antoni dalam keterangan tertulisnya, Rabu (14/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rinciannya, Prabowo meminta maaf sebanyak dua kali kepada masyarakat terkait kasus kabar bohong alias hoaks Ratna Sarumapet dan kasus 'tampang Boyolali'.
"Minta maaf tentu saja baik. Tobat adalah komitmen untuk tidak akan melakukan kesalahan lagi. Hijrah, seperti yang dikatakan Pak Jokowi, adalah perpindahan dari yang buruk menjadi baik," tuturnya.
Raja Juli, yang juga menjabat Sekjen PSI itu, pun berpendapat masyarakat mungkin akan memaafkan kesalahan yang telah dibuat Prabowo-Sandiaga. Namun, ia menilai masyarakat tak akan melupakan sikap yang sudah dilakukan pasangan tersebut.
Dihubungi terpisah, Juru Bicara TKN Ace Hasan Syadzily justru mempertanyakan kelayakan sosok Prabowo-Sandiaga menjadi pemimpin karena kerap kali minta maaf tanpa adanya penyesalan yang berarti.
"Apakah calon pemimpin yang selalu melakukan kesalahan dan terus menerus minta maaf itu, layak dipercaya?" tandasnya.
(rzr/arh)