Moeldoko Sebut Kubu Prabowo Kerap Bicara Tanpa Substansi

CNN Indonesia | Kamis, 15/11/2018 07:10 WIB
Moeldoko Sebut Kubu Prabowo Kerap Bicara Tanpa Substansi Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Moeldoko menantang kubu Prabowo-Sandi beradu rekam jejak. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Moeldoko menyebut kubu Prabowo Subianto-Sandiaga sering melontarkan pernyataan tanpa substansi saat kampanye pilpres 2019.

Hal itu ia katakan untuk merespons banyaknya kritik sejumlah pihak soal ucapan Jokowi tentang 'genderuwo' dan 'sontoloyo' yang dianggap tak substansial.

"Memangnya di sana [kubu Prabowo-Sandiaga] bicara substansi apa? Bicaranya enggak substansi juga. Justru sekarang itu mari kita sama-sama memikirkan lebih substansi jangan mikir enggak-enggak," kata Moeldoko saat ditemui di kediaman Ma'ruf Amin, Menteng, Jakarta, Rabu (14/11).



Moeldoko mengatakan Jokowi mengeluarkan diksi 'genderuwo' dan 'sontoloyo' sekadar spontanitas.

Ia menyatakan Jokowi merasa tak nyaman karena banyaknya kabar bohong yang disebarkan pihak tak bertanggung jawab.

"Buktinya kalau bicara sontoloyo hanya orang Jawa yang ngerti, bicara genderuwo juga orang Jawa lebih banyak orang Jawa yang ngerti. bukan bahasa yang direncanakan, itu bahasa spontan," kata dia.

Kepala Staf Presiden itu pun membantah bahwa kubu Jokowi melakukan strategi bertahan atau defensif di pilpres.

Moeldoko Sebut Kubu Prabowo Kerap Bicara Tanpa SubstansiCalon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Ia mengatakan selama masa kampanye, kubu Jokowi-Ma'ruf hanya membangun narasi yang berfokus pada program kerja ketimbang terus menerus menyerang.

Moeldoko menantang balik tim sukses Prabowo-Sandiaga untuk beradu rekam jejak dan program ketimbang adu sensasi yang tak substansial.

"Bukan hanya TKN yang menantang. Masyarakat dong yang melihat, memang sudah berbuat apa sih?" Kata Moledoko.

"Selalu bicara program. Program yang telah dijalankan sekarang maupun ke depan apa yang mau dilakukan itu selalu begitu," tambahnya.


Belakangan ini, Jokowi kerap membuat kejutan untuk publik dengan pernyataan frontal dalam pidatonya.

Saat membagikan sertifikat tanah bagi warga Jakarta Selatan, Selasa (22/10), Jokowi mengingatkan masyarakat akan bahaya politikus sontoloyo. Menurutnya, politikus sontoloyo memengaruhi masyarakat dengan isu-isu tak jelas.

Tak berhenti di situ, Jokowi kembali membuat retorika ofensif saat mengunjungi Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11). Kali ini Jokowi memakai istilah 'politik genderuwo' sebagai gaya politik yang hanya menakut-nakuti masyarakat.

(rzr/pmg)