Wajah Lelah Peserta Diskusi Khilafah Usai Penantian Panjang

CNN Indonesia | Sabtu, 17/11/2018 18:48 WIB
Wajah Lelah Peserta Diskusi Khilafah Usai Penantian Panjang Sejumlah orang telah menyiapkan uang bertahun-tahun untuk menghadiri acara Syiar dan Silaturrahim Kekhalifahan Islam Sedunia. Namun acara itu dibatalkan. (CNN Indonesia/Setyo Aji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pria berpeci hijau-putih tampak lelah di Masjid At-Taqwa Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (16/11) malam. Mereka baru tiba dari Nusa Tenggara Barat bersama ratusan orang lainnya untuk menghadiri acara Syiar dan Silaturrahim Kekhalifahan Islam Sedunia 1440 H.

Beberapa anggota polisi dan sekuriti PRJ meminta mereka yang ingin beristirahat di masjid segera meninggalkan lokasi pada malam itu. Alasannya, pihak manajemen tidak memberi izin.

Debat sempat memanas. Perwakilan massa meminta keringanan bermalam, sementara aparat keamanan bersikukuh tak boleh berada di kawasan itu.



"Nunggunya di bus saja, Pak. Kan, enak dingin," ujar salah satu petugas kepolisian di tengah perdebatan.

"Kami masih menunggu kepastian, Pak. Mohon pengertiannya," jawab petugas humas acara tersebut, Ahmad jamaluddin.

Panitia acara itu adalah Khilafatul Muslimin. Para peserta berkumpul di Masjid At-Taqwa setelah mengetahui acara Silaturahim Kekhalifahan itu batal digelar di Masjid Akbar Kemayoran.

Izin dari pihak masjid yang diberikan sejak 11 Agustus 2018 dimentahkan pihak Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (PPKK). PPKK sendiri merupakan lembaga yang berada di bawah naungan Kementerian Sekretariat Negara.


Di Masjid Akbar terpajang spanduk besar bertuliskan "Tidak Ada Acara Syiar dan Silaturahim Kekhalifahan Islam se-Dunia 1440 H".

Alternatif tempat lainnya yaitu di Masjid Az-Zikra, Bogor. Namun Polres Kabupaten Bogor tidak menerbitkan izin penyelenggaraan acara tersebut.

Para peserta yang terlanjur berangkat ke Jakarta pun kebingungan. Ketua panitia acara Hadiwiyanto mengarahkan para peserta yang sudah datang ke Jakarta untuk iktikaf atau ibadah di sejumlah masjid.

Masjid AKbar Kemayoran, Jakarta. (CNN Indonesia/Setyo Aji Harjanto)
Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Roma Hutajulu meminta pihak manajemen Kemayoran memperbolehkan rombongan bermalam. Namun para peserta belum mempunyai kepastian terkait acara.

"Ketua kami sedang diskusi di Polda soal acara ini, dan kami masih belum punya rencana. Kami serahkan pada Allah SWT," kata Koordinator Acara Bidang Publikasi Wuri Handoyo Kepada CNNIndonesia.com sambil tersenyum.

Alimuddin Samaun (58) salah seorang yang ikut rombongan, merasa tak terlalu kecewa meski acara yang dihadirinya tidak jelas. Ia pasrah dan yakin bahwa semua ini adalah ujian dari Tuhan.

Samaun mengaku sudah mengumpulkan uang untuk perjalanan kali ini sejak empat tahun lalu. Penghasilan Samaun dari bertani ditabung sedikit demi sedikit demi menghadiri hajatan rutin organisasinya itu.

"Ini risiko perjuangan, semua perjalanan ada tantangannya pasti, menguji ketakwaan kita, kesabaran kita itu pasti," katanya tersenyum.


Peserta lainnya, Abu Bakar Bin Ismail (42) mengungkapkan hal yang sama. Bapak tiga anak ini telah mengumpulkan uang sejak dua tahun lalu agar bisa berangkat ke Jakarta.

Perjalanan melalui darat dan laut selama tiga hari dia tempuh dari Bima, NTB, ke Jakarta. Abu Bakar mengatakan rombongannya berangkat sejak Selasa (13/11) lalu menggunakan bus.

Sebelum berangkat ke Jakarta, kata Abu Bakar, rombongan sempat dilepas secara resmi oleh Kapolres Bima.

Di tengah perjalanan, tepatnya di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, salah satu peserta yang telah uzur terpaksa pulang ke Bima lantaran menderita prostat.

Abu Bakar heran acara ini mendapat penolakan di Jakarta. Padahal menurutnya, acara serupa sering diadakan beberapa tahun terakhir.

"Sebelumnya pernah di Boyolali, sebelumnya lagi di Bandung di pesantrennya Aa Gym (Abdullah Gymnastiar)," katanya.
Ilustrasi massa pendukung khilafah. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Hanya Ingin Diskusi

Hadiwiyanto menjelaskan bahwa acara yang hendak diselenggarakan itu adalah diskusi semata. Ia meyakinkan tidak ada agenda demonstrasi atau aksi protes pemerintahan.

"Kami ini hanya ingin diskusi, bahkan kami sudah undang Kapolri (Jenderal Tito Karnavian) untuk hadir di acara itu memberikan sambutan" ujarnya.

Hadiwiyanto mahfum, saat ini khilafah menjadi momok lantaran sering dikaitkan dengan ormas terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Namun ia menegaskan pemahaman khilafah yang dipegang organisasinya berbeda dengan HTI.

"Kami ingin luruskan, kok kata-kata khilafah jadi momok kenapa, sering kali khilafah dianggap teroris, radikalisme, justru ingin luruskan" ujarnya.

Dia menyatakan organisasinya tidak bermaksud mendirikan negara di dalam negara. "Bukan politik praktis, kami enggak masuk ke ranah itu," ujarnya.

Sementara Abu Bakar menjelaskan, ketua Khilafatul Muslimin yaitu Abdul Qodir Hasan Baraja merupakan khalifah atau pemimpin umat Islam seluruh dunia. Diketahui, Abdul Qodir adalah ulama kelahiran NTB yang kini tinggal di Lampung.
(sah/pmg)