Wilmar Sangkal Terlibat Penahanan Aktivis Greenpeace

CNN Indonesia | Selasa, 20/11/2018 02:27 WIB
Wilmar Sangkal Terlibat Penahanan Aktivis Greenpeace Ilustrasi (REUTERS/Tote Maritime/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wilmar International menyangkal keterlibatannya dalam kasus penahanan enam aktivis Greenpeace International yang naik ke kapal tanker Stolt Tentacity di Spanyol, Sabtu (17/11) lalu waktu setempat.

Menurut Komisaris Wilmar, MP.Tumanggor, kapal yang disasar oleh aktivis Greenpeace tersebut bukanlah kapal Wilmar.

"Kapal Tanker yang menjadi sasaran dari Greenpeace adalah milik pihak ketiga yang kebetulan digunakan oleh Wilmar," Kata Tumanggor melalui pernyataan tertulis kepada cnnindonesia.com, Senin (19/11).


Dirinya juga menambahkan bahwa tidak semua kargo diatas kapal Stolt Tentacity tersebut milik pihak Wlmar.

"Hanya sebagian dari total kargo yang diangkut merupakan cargo milik Wilmar. Kami menggunakan jasa pihak ketiga dalam pengangkutan kargo kami," kata Tumanggor.

Ketika ditanyakan mengenai alasan jelas dari kapten kapal menahan para aktivis, Tumanggor menjelaskan bahwa pihak Wilmar tidak memiliki kuasa atas tindakan penahanan yang dilakukan oleh kapten.

"Dikarenakan kami menggunakan jasa pihak ketiga dalam pengangkutan kargo tersebut, kami tidak memiliki kontrol terhadap apa yang dilakukan oleh kapten Kapal," tegas Tumanggor.

Menurutnya, aksi yang dilakukan oleh keenam aktivis greenpeace ini berbahaya bagi kedua belah pihak, baik kru maupun aktivis Greenpeace. Tumanggor juga menegaskan bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap nasib yang dialami oleh keenam aktivis tersebut dikarenakan jasa pihak ketiga.

Sangkal deforestisasi

Komisaris Wilmar tersebut juga mempertanyakan kebenaran protes yang dilakukan oleh Greenpeace International bahwa Wilmar telah merusak hutan di Indonesia.

"Kami sangat yakin minyak sawit yang kami produksi adalah minyak sawit yang bebas deforestasi," jelas pria itu lagi.

Tumanggor juga menambahkan bahwa aksi yang dilakukan oleh Greenpeace International ini adalah sebuah bentuk upaya paksa untuk mempublikasikan peta konsesi pemasok bahan baku ke perusahaan, termasuk izin lokasi.

Pihaknya juga menegaskan bahwa Wilmar tidak dapat mempublikasikan peta konsesi karena menyalahi aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Sebab, izin lokasi hanya daat dipublikasikan dengan persetujuan dari bupati setempat. Tumanggor juga menganggap bahwa tujuan utama dari Greenpeace International bukanlah memprotes komitmen deforestation.

"Permintaan untuk mempublikasikan peta konsesi dari seluruh pemasok kamilah sebenarnya alasan utama dari Greenpeace melakukan kampanye negatif terhadap Wilmar," tegas Tumanggor.

Sebelumnya, aksi damai yang dilakukan oleh Greenpeace International ini bertujuan untuk memprotes perusakan hutan di Indonesia.

Investigasi terbaru Greenpeace International menemukan bahwa pemasok minyak sawit Mondelez telah menghancurkan 70.000 hektare hutan di seluruh Asia Tenggara dalam dua tahun dan juga menemukan bukti terkait dengan persoalan kebakaran hutan, mempekerjakan anak-anak, eksploitasi pekerja, penebangan ilegal, hingga perampasan tanah.

Dalam protesnya, para aktivis Greenpeace yang terdiri dari beberapa negara yaitu Indonesia, Jerman, Inggris, Prancis, Kanada dan Amerika Serikat ini menaiki kapal kargo sepanjang 185 meter pengangkut minyak sawit (crude palm oil/cpo) di Teluk Cadiz, dekat Spanyol. (fyp/eks)