Surat Terbuka Dandhy Sindir PSI: Dakwah Monoteisme Sawit

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 18/09/2018 14:21 WIB
Surat Terbuka Dandhy Sindir PSI: Dakwah Monoteisme Sawit Dandhy Dwi Laksono menyindir PSI bahwa perkebunan sawit bisa memperlancar dakwah monoteisme, termasuk kepada kelompok masyarakat rimba di hutan. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Video penjelasan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang membandingkan ekspor sawit dan harga gadget alias gawai mendapatkan kritik dari para aktivis lingkungan.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) yang merupakan salah satu organisasi lingkungan telah angkat bicara soal gagal pahamnya PSI atas konteks perkebunan sawit yang dituding merusak lingkungan.


Belakangan, pembuat film dokumenter yang juga gencar menyuarakan soal hak kelompok marjinal, Dandhy Dwi Laksono memiliki caranya sendiri menyindir partai yang dipimpin mantan jurnalis, Grace Natalie tersebut. Dandhy melontarkan kritik berupa sindirannya tersebut lewat Surat Terbuka yang ia unggah di akun Facebook serta Twitter.


"Bro dan Sis tak perlu khawatir. Tak semua yang mem-bully PSI adalah lawan," demikian penutup surat terbuka Dandhy tersebut yang dikutip, Selasa (18/9).

Selanjutnya, pria kelahiran Lumajang tersebut pun memberikan saran bernada satire kepada PSI andai partai peserta Pileg 2019 itu dirundung atau dikritik kelompok politik berbasis agama.

"Saran saya, jika diserang geng politik agama soal sawit ini, Bro dan Sis cukup bilang: 'Selain menguatkan rupiah dan gadget murah, sawit juga membantu dakwah monotheisme. Karena dewa-dewi atau roh leluhur akan ikut hilang bersamaan pohon dan sumber air, seperti lenyapnya hutan-hutan suci orang Malind di Papua," tulis Dandhy.

"Lagipula mana ada hutan suci. Kalau tanah suci ada. Hutan ya hutan. Ia adalah sumber devisa, gadget murah, dan tempat bersemayamnya tahayul-tahayul yang menyesatkan iman...Tidakkah kita sebenarnya berkawan?" demikian penutup Surat Terbuka Dandhy yang ditujukan kepada Bro dan Sis PSI tersebut.

Dandhy berargumen soal dakwah monoteisme karena menilai proses agamisasi terhadap masyarakat adat yang memegang kepercayaan leluhurnya berjalan mulus saat kehilangan hutan penyangga hidup.

"... 'Agamaisasi' terhadap Orang Rimba di belantara Jambi berjalan mulus begitu mereka kehilangan hutan yang memberinya martabat, berganti menjadi pengharap dana bantuan sosial. Tapi sebelumnya, mereka harus memiliki KTP agar terdata sebagai penduduk. Dan di dalam KTP, mereka harus mengisi kolom agama," ujarnya.

[Gambas:Instagram]

Pada permulaan surat terbuka tersebut, Dandhy memberikan pemahaman singkat kepada bro dan sis PSI mengenai fungsi hutan, keberagaman hayati, dan kaitannya dengan masyarakat adat serta religiositas.

"Keragaman itu, Bro dan Sis, tak hanya keyakinan atau warna kulit. Keragaman hayati di hutan, terkait dengan sumber kepercayaan yang beragam, yang konon sedang kalian bela," demikian pembuka surat terbuka Dandhy.

"Kepercayaan Arat Sabulungan di Kepulauan Mentawai tumbuh di atas keanekaragaman biologi itu. Sikerei tak akan sanggup merapal mantra dan menjalankan ritual, jika salah satu dari 10 tanaman yang dibutuhkan untuk mengobati sakit perut, punah karena desakan perkebunan tanaman tunggal (monokultur) seperti kelapa sawit," sambung Dandhy dalam tulisannya itu.

Dandhy menegaskan soal perkebunan sawit tak bisa hanya membicarakan pada skala 1-2 hektare. Namun, bicara hingga ribuan hektare yang berwujud satu hamparan luas di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

"Dan kini bahkan menggerayangi pulau-pulau kecil seperti Halmahera," ujar pria yang pernah malang melintang sebagai jurnalis sejak 1990an silam.

Dandhy pun menyindir PSI apa yang terjadi saat keragaman hayati hilang akibat perkebunan sawit.

Surat Terbuka Dandhy Sindir PSI, Dakwah Monoteisme SawitPerkebunan sawit memiliki karakter monokultur sehingga dituding sebagai penyebab menghilangkannya keanekaragaman hayati.  (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

Sebelumnya, dalam kritik Walhi atas PSI, LSM itu menyatakan sawit merupakan komoditas dengan karakter monokultur yang menghancurkan hutan dengan keanekaragaman hayatinya.

"Bro dan Sis tak akan melihat ritual perang pandan Hindu Indra yang termashur di Desa Tenganan Pegringsingan, jika tanaman pandan itu sendiri tumpas. Tak akan ada bahan untuk Instagram Bro dan Sis semua, jika upacara besar seperti Usaba Samba tak lagi menyediakan aneka buah dan tanaman yang menjadi sesaji, hanya gara-gara hutan adat mereka diseragamkan dengan wajah Bali lainnya yang penuh properti," tulis Dandhy.

Menurutnya, PSI sebagai partai yang mengidentikkan diri dengan kaum milenial tak patut meniru politikus tua yang bersembunyi di balik pakaian dat dan kampanye Bhineka Tunggal Ika. Namun, sambung Dandhy, agendanya justru menghilangkan keragaman.

"Karena itu, membela keragaman keyakinan harus dimulai dari membela keragaman bentang alam. Sampaikan ini ke para bohir," pesan Dandhy.
Surat Terbuka Dandhy Sindir PSI: Dakwah Monoteisme Sawit(Screenshot via Twitter/@Dandhy_Laksono)

Sebelumnya, tanggapi kritik Walhi, PSI telah menyampaikan penjelasan perihal video berdurasi 446 detik yang diunggah di akun media sosial PSI yakni Instagram dan Facebook.

Video yang diberi judul 'Dolar Naik bikin Gadget Mahal? ada Solusi' diunggah di akun Facebook dan IG resmi PSI pada 13 September. Dalam video tersebut terdapat keterangan bahwa dolar naik bikin harga gadget mahal, tapi sawit bisa jadi solusinya.

"Makanya dukung ekspor komoditas kita terutama sawit, ekspor sawit menyumbang devisa, kita berharap industri sawit diringankan dari berbagai biaya sehingga ekspor sawit bisa melesat lebih kencang, so dollar naik kalem aja enggak usah panik," demikian kalimat dalam video PSI.

Kepada Walhi, PSI menjelaskan pihaknya mendukung bisnis 'Sawit Putih' dan menolak bisnis 'Sawit Hitam'.

Namun penjelasan PSI itu dikritik Walhi. Menurut Walhi tidak ada "sawit putih" atau berkelanjutan, karena karakter komoditas ini adalah monokultur dan sudah dipastikan menghancurkan hutan dengan keragaman biodiversity .

"Dengan segala fungsinya baik secara ekologis, sosial budaya dan ekonomi, mencemari lingkungan hidup. Pernyataan Partai Solidaritas Indonesia terkait sumbangsih ekonomi korporasi sawit, didasarkan pada argumentasi yang parsial dan sempit," tulis Walhi dalam keterangan yang menanggapi penjelasan PSI soal Sawit.

(kid/kid)