Suara Penolakan dari Batang: Lautku Bukan untuk PLTU

Greenpeace, CNN Indonesia | Kamis, 30/03/2017 21:02 WIB

Batang, CNN Indonesia -- Aktivis Greenpeace, Walhi dan Jatam menolak rencana pembangunan proyek PLTU di Batang. Mereka menduduki alat berat yang akan dipakai membangun PLTU.

Sebuah alat berat yang beroperasi di perairan Roban Timur, Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/3), diduduki aktivis. Alat berat itu digunakan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). (Micka Bayu Kristiawan/Greenpeace)
Aktivis yang menamakan diri Koalisi Break Free terdiri dari lembaga swadaya masyarakat Greenpeace, Wahana Lingkungan Hidup, dan Jaringan Advokasi Tambang. (Ardiles Rante/Greenpeace)
Dalam aksinya, aktivis membentangkan spanduk yang meminta agar proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang dihentikan. (Ulet Ifansasti/Greenpeace)
Menurut para aktivis, penolakan juga datang dari masyarakat Batang yang sebagian besar adalah nelayan dan petani. Masyarakat sudah berjuang lima tahun lebih untuk menentang proyek PLTU Batang ini. (Ulet Ifansasti/Greenpeace)
PLTU bertenaga Batubara ini disebut terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 2.000 megawatt. PLTU Batang diperkirakan akan mengeluarkan sekitar 10,8 juta ton karbon ke atmosfer, setara dengan emisi karbon seluruh negara Myanmar tahun 2009. (Ardiles Rante/Greenpeace)
PLTU akan dibangun di Kawasan Konservasi Laut Daerah Ujungnegoro-Roban. Kawasan itu merupakan perairan kaya ikan dan terumbu karang. Kawasan itu jadi wilayah tangkapan ikan nelayan dari berbagai wilayah di Pantai Utara Jawa. (Kasan Kurdi/Greenpeace)
Kawasan Konservasi Laut Daerah Pantai Ujungnegoro-Roban ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Laut Daerah melalui PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRW Nasional Lampiran VIII Nomor Urut 313. (Kasan Kurdi/Greenpeace)
Sementara di darat, PLTU Batubara ini akan dibangun di atas tanah seluas 226 hektar, memangsa lahan pertanian produktif yang terdiri dari sawah irigasi 124,5 hektar, perkebunan melati 20 hektare, dan sawah tadah hujan 152 hektar. (Ulet Ifansasti/Greenpeace)
Penolakan terhadap pembangunan ini tidak hanya terjadi di Batang tetapi juga di tempat-tempat lain seperti Indramayu, Cirebon, Jepara, Bengkulu, dan Cilacap. PLTU ini dinilai bertentangan dengan visi Nawacita Jokowi yakni kedaulatan pangan dan kedaulatan energi. (Ardiles Rante/Greenpeace)