Greenpeace Pasang Baliho Raksasa soal Udara Buruk Jakarta

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Selasa, 21/08/2018 14:09 WIB
Greenpeace Pasang Baliho Raksasa soal Udara Buruk Jakarta Greenpeace memasang baliho raksasa bertuliskan #WeBreatheTheSameAir untuk menyampaikan peringatan soal kualitas buruk udara Jakarta selama Asian Games 2018. (Foto: Dok. Greenpeace Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan Greenpeace memasang baliho raksasa di halaman bekas tempat hiburan Taman Ria Senayan, Jalan Gatot Soebroto.

Lewat baliho berukuran sekitar 128 meter persegi itu, Greenpeace mengirimkan pesan bertagar #WeBreatheTheSameAir.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu, mengatakan pesan yang disampaikan pihaknya lewat baliho raksasa ini memberikan peringatan kepada publik serta para delegasi pesta olahraga terbesar di Asia, Asian Games 2018 terkait kualitas udara di Jakarta yang masuk kategori buruk.


"Greenpeace Indonesia memasang sebuah pesan pada poster berukuran raksasa dengan pesan #WeBreatheTheSameAir," kata Bondang kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/8).

Dia menerangkan pesan ini disampaikan berdasarkan data kualitas udara Jakarta yang diambil Greenpeace dari pemantauan alat kualitas udara milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, serta tiga alat milik Greenpeace.

Berdasarkan data yang diolah dari stasiun pantau Particular Matter (PM) 2,5, di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan dalam satu bulan terakhir, menurutnya, kualitas udara di Jakarta masuk kategori tidak sehat selama 22 hari.

Bahkan, lanjutnya, berdasarkan versi aplikasi pemantauan udara AirVisual dinyatakan bahwa Jakarta menduduki peringkat pertama kota berpredikat kualitas udara buruk di antara kota-kota besar di dunia lain per 11 Agustus 2018.
Greenpeace Pasang Baliho Peringatan Udara Buruk JakartaGreenpeace memasang baliho raksasa di Jakarta sebagai peringatan buruknya kualitas udara. (Foto: Dok. Greenpeace Indonesia via instagram (@greenpeaceid)

Kualitas udara di Jakarta berdasarkan alat pemantau BMKG menunjukan angka 87,3 mikrogram per meter kubik.

Sementara itu, data stasiun pemantauan Indeks Standard Pencemaran Udara (ISPU) pada tanggal yang sama di Jagakarsa, Kelapa Gading, dan Kebon Jeruk milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menunjukan kategori tidak sehat.

Bondan berkata, berangkat dari data-data ini, Greenpeace meminta pemerintah segera mencari solusi nyata, mengingat mata dunia sedang tertuju pada Indonesia sebagai penyelenggara Asian Games 2018.

"Solusi menekan sumber polusi harus dilakukan dalam satu komando yang jelas, karena ini akan mencakup lintas kementerian dan kepentingan, mulai dari permasalahan transportasi, industri, sampai pembangkit yang harus dibatasi dan diatur secara ketat," ucap Bondan.

Dia pun menyatakan kualitas udara yang buruk dapat membahayakan kesehatan warga dan meningkatkan risiko kematian dini. Partikel polutan yang paling berbahaya PM 2.5 dapat terhirup dan mengendap di organ pernafasan.

Bahkan, menurutnya, jika terpapar dalam jangka panjang, PM 2.5 dapat menyebabkan infeksi saluran pernafasan akut terutama bagi anak-anak, hingga kanker paru-paru.
Greenpeace Pasang Baliho Peringatan Udara Buruk JakartaGreenpeace memasang baliho raksasa di Jakarta sebagai peringatan buruknya kualitas udara. (Foto: Dok. Greenpeace Indonesia)

Selain itu, PM 2.5 dapat meningkatkan kadar racun dalam pembuluh darah yang dapat memicu stroke, penyakit kardiovaskular, penyakit jantung lain, serta dapat membahayakan ibu hamil.

"Ini adalah ancaman kesehatan nyata bagi semua orang, mulai dari balita, anak-anak, atlet dunia yang saat ini berkunjung ke Jakarta hingga jutaan pekerja yang setiap harinya hilir mudik di Jakarta. Ini adalah kepentingan kita bersama, akses terhadap udara bersih adalah hak hidup masyarakat", ujar Bondan.

Dia pun menerangkan tingkat polusi udara yang sangat tinggi telah menimbulkan biaya kesehatan dan kerugian ekonomi yang besar.

Pada 2010, menurutnya, penelitian Kementerian Lingkungan Hidup dan menyatakan bahwa 57,8 persen dari total penduduk Jakarta yang mencapai 9.607.787 jiwa, mengidap penyakit yang ditimbulkan akibat polusi udara.

Dia menambahkan total biaya kesehatan yang harus dibayar warga Jakarta untuk mengobati penyakit tersebut mencapai Rp38,5 triliun. (wis)