Wiranto: Jangan Malu Jadi Orang Boyolali

CNN Indonesia | Kamis, 22/11/2018 16:16 WIB
Wiranto: Jangan Malu Jadi Orang Boyolali Wiranto menyarankan masyarakat tak perlu malu apabila berasal dari wilayah Boyolali karena banyak warga di wilayah itu yang sukses di kancah nasional. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menyinggung soal tampang Boyolali yang pernah dijadikan guyonan oleh Prabowo Subianto sebagai representasi nasib orang susah.

Wiranto menyarankan masyarakat tak perlu malu apabila berasal dari wilayah Boyolali karena banyak warga di wilayah itu yang sukses di kancah nasional.

"Jangan malu jadi orang desa, jangan malu jadi orang Boyolali, itu banyak yang jadi jenderal jadi pengusaha, saya sendiri dari Boyolali juga," kata Wiranro saat berpidato di acara Rakornas Pelaksanaan Pemilu 2019 di kawasan, Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (21/11).

Mantan Panglima ABRI itu mengatakan bahwa masyarakat yang berasal dari pelosok maupun yang berasal dari wilayah pedesaan kini tak perlu berkecil hati.


Dia mengklaim pemerintahan Jokowi kini terus berupaya membangun berbagai infrastruktur dan memperbaiki fasilitas layanan publik sampai pelosok daerah untuk kemakmuran masyarakat.

"Bangsa ini terus membangun, membangun, membangun, membangun. Kemajuan-kemajuan itu sedang kita bangun lagi," kata dia.
Wiranto: Jangan Malu Jadi Orang Boyolali, Banyak yang Jadi JeCalon presiden Prabowo Subianto pernah menyinggung tampang Boyolali sebagai representasi nasib orang susah. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)


Tak hanya itu, Wiranto turut mengatakan bahwa Jokowi berkomitmen dalam program Nawacita Jilid I untuk membangun wilayah perbatasan Indonesia.

Salah satu contohnya, kata Wiranto, pemerintah telah membangun dan merenovasi setidaknya tujuh pos perbatasan dan memperbaiki berbagai fasilitas penunjang di wilayah perbatasan Indonesia

Hal itu bertujuan agar keamanan dan gekiat perekonomian masyarakat di wilayah tersebut dapat tumbuh guna sebagai bentuk keadilan pemerintah.

"Ada juga program penyamaan harga, harga di perkotaan dengan harga di perbatasan, misalnya di Wamena dulu bahan bakar 75 ribu di kota Rp7.000, nah ini sekarang sudah disamakan. Ini terobosan besar," kata dia.


(rzr/gil)