"Yusuf Martak pernah di PPP tidak ya? Mengerti tidak soal sejarah PPP? Pembentukan PPP seperti apa? Dan tahu tidak lambang PPP adalah hasil istikharah para ulama?" kata Ketua DPP PPP Lena Maryama Mukti saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (23/11).
"Jelas sekali beliau [Yusuf Martak] tidak paham sejarah perjuangan ulama dan PPP," tambah dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun 2016 sudah muktamar islah. Semua pendukung sudah di posisi Rommahurmuziy karena kepengurusan muktamar islah sudah disusun dan terdiri dari kedua belah kubu," jelas dia.
Ketua GNPF Ulama Yusuf Muhammad Martak, di Jakarta, Senin (12/3). (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho) |
Sebelumnya, Ketua GNPF Yusuf Muhammad Martak Ulama meminta PPP untuk menghapus lambang kakbah dari bendera mereka. Sebab, ia takut simbol umat Islam ternodai oleh masalah internal PPP.
"Kami sampaikan ke Romi [Ketua Umum PPP], kalau bisa tolong dong, kalau bisa diganti deh kakbahnya karena itu kiblat umat Islam yang Anda pakai buat gontok-gontokan dua kelompok dalam satu organisasi," ujar dia, dalam diskusi "Mengakhiri Polemik Partai Bendera", di Jakarta, Jumat (23/11).
"Bendera itu sebenarnya, kalau mau jujur saya setuju kalimat tauhid tidak boleh dipakai ormas, ini rawan," ucap Yusuf.
"Seandainya melihat pengalaman bendera tauhid, PPP bisa mempertimbangkan mengganti dengan lambang lainnya," tambah dia.
Ketua Umum PPP versi muktamar Jakarta Humphrey Djemat, di Jakarta, Kamis (15/11). (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra) |
Namun, polemik perpecahan PPP kembali terungkap ke publik usai kubu Muktamar Jakarta, yang kali ini dipimpin Humphrey Djemat, mendeklarasikan dukungan ke Prabowo Subianto, Jumat (16/11). Sementara, PPP Romahurmuziy sejak lama mendukung Joko Widodo.
(dhf/arh)
Ketua GNPF Ulama Yusuf Muhammad Martak, di Jakarta, Senin (12/3). (
Ketua Umum PPP versi muktamar Jakarta Humphrey Djemat, di Jakarta, Kamis (15/11). (