BPN Kecewa Ucapan Prabowo soal Kedubes Australia Dipolitisasi

CNN Indonesia | Minggu, 25/11/2018 14:50 WIB
BPN Kecewa Ucapan Prabowo soal Kedubes Australia Dipolitisasi Calon presiden nomor urut dua Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Hubungan Internasional Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiga Uno, Irawan Ronodipuro mengaku menyayangkan sikap sejumlah orang terkait pernyataan Prabowo soal Palestina dan Israel.
Irawan menyebut beberapa pihak telah salah paham dengan pernyataan mantan Danjen Kopassus itu terkait pemindahan Kedutaan Besar Australia untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

"Pernyataan Pak Prabowo soal pemindahan Kedubes Australia ke Yerusalem itu juga disalahartikan," kata Irawan di Jakarta, Minggu, (25/11).

Dia juga sangat kecewa dengan sikap seorang tokoh yang dianggapnya sangat membabi buta menyerang Prabowo. Serangan itu, kata dia, telah dipolitisasi sedemikian rupa. Terlebih, lanjutnya, yang menyerang ini memang berbeda pandangan politik.


"Jangan hanya karena berbeda pandangan politik lantas menyerang membabi-buta. Padahal dikenal sebagai tokoh agama, padahal tahu perjuangan Pak Prabowo untuk Palestina. Tapi lantaran pernah diperiksa KPK jadi takut dengan penguasa. Dan menyebarkan cerita salah yang menyerang Prabowo. Menjilat penguasa," kata Irawan.
Dalam kesempatan itu, Irawan membeberkan perjuangan Prabowo untuk Palestina. Dia mengatakan perjuangan yang diberikan mantan menantu Soeharto untuk Palestina itu tak perlu dipertanyakan lagi.

"Silakan tanya ke warga Palestina. Silakan tanya ke Duta Besar Palestina yang pernah di Indonesia Fariz N Mehdawi. Prabowo langsung mengirim bantuan ketika Israel menginvasi Palestina. Bantuan Prabowo ini bukan karena apa-apa. Tapi ini karena kemanusiaan dan keadilan," ujarnya.

Untuk itu, Irawan mengaku heran jika persoalan kemanusiaan seperti yang terjadi di Palestina ini malah menjadi komoditas politik.
"Apalagi hanya untuk mencari muka kepada penguasa dengan cara menyerang pribadi orang lain membabi-buta. Agama mana yang mengajarkan itu? Apalagi jika dia seorang tokoh agama," ucap Irawan. (tst/dea)