Anies Sebut Penurunan Tanah Jakarta Akibat Penyedotan Air

CNN Indonesia | Rabu, 05/12/2018 07:48 WIB
Anies Sebut Penurunan Tanah Jakarta Akibat Penyedotan Air Gubernur DKI Anies Baswedan memaklumi hasil penelitian yang menyatakan ada penurunan tanah, karena kondisinya penyedotan air tanah di Jakarta sudah berlebihan. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan angkat suara soal penelitian yang menyatakan penurunan permukaan tanah sedalam 11 sentimeter tiap tahunnya di kawasan Jakarta Utara.

Sebelumnya, peneliti dari Universitas Indonesia Syamsu Rosid menyatakan berdasarkan hasil penelitian mikro gravitasi empat dimensi (4D) antara 2014-2018, hampir di semua kawasan di Jakarta Utara terindikasi penurunan permukaan tanah. Laju penurunan tersebut rata-rata sekitar 11 sentimeter per tahunnya.

Syamsu menyebut penurunan permukaan tanah tersebut kemungkinan akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan. Selain itu, bisa juga disebabkan aktivitas manusia yang banyak memicu getaran-getaran pada permukaan tanah, misalnya truk-truk bertonase berat ataupun pembangunan infrastruktur berbobot berat yang cukup intensif.



Apa yang diutarakan Syamsu itu pun kemudian dipahami Anies. Mantan Rektor Universitas Paramadina itu mengakui salah satu penyebab penurunan tanah di kawasan Jakarta Utara akibat eksplotasi yang berlebihan.

"Salah satu sebab penurunan tanah salah satunya adalah karena air tanah yang ditarik kemudian karena bangunan-bangunan kan berat jadi turun ke bawah, airnya diangkat," kata Anies di kawasan Sudirman, Selasa (4/12) malam.

Untuk mengatasi hal tersebut, kata Anies, Pemprov DKI akan menggencarkan program drainase vertikal. Tujuannya, untuk menjaga volume air tanah.

Anies menyebut dalam program tersebut dibutuhkan sekitar 1,8 juta lubang drainase di Jakarta. Atas dasar itu, sambung Anies, setiap gedung maupun rumah harus memiliki lubang drainase untuk menurunkan air ke bawah.

Pria yang pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK ini menuturkan pengelolaan air limbah di Jakarta juga menjadi masalah tersendiri. Sebab, kurangnya pengelolaan air limbah tersebut berdampak pada menurunnya kualitas air tanah.

"Air hujan malah dialirkan keluar, harusnya air hujannya diturunkan ke dalam tanah, air limbahnya dikelola baru masuk ke dalam tanah. Kalau sekarang air hujan malah hampir mayoritas dikirim ke sungai," tutur Anies.

Anies Sebut Penurunan Tanah Jakarta Akibat Penyedotan AirMaraknya pembangunan gedung-gedung di Jakarta disebutkan menjadi salah satu faktor membuat air tanah lebih banyak tersedot. Selain itu, beban bangunan bertonase tinggi itu mengakibatkan penurunan tanah saat air di bawahnya terus disedot. (CNN Indonesia/Hesti Rika)


Uji Coba Program Drainase Vertikal

Di sisi lain, terkait program drainase vertikal tersebut, Anies menyampaikan telah melakukan uji coba di wilayah Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Ia menjelaskan di wilayah Pondok Labu ada sebuah lapangan yang selalu tergenang tiap kali hujan turun. Menurut Anies di ruang terbuka seharusnya air lebih mudah menyerap ke dalam tanah.

"Tapi di tempat itu, ruang terbuka hijau dan airnya tak menyerap. Kemudian dibuat (lubang drainase) ketika hujan lebat ternyata airnya langsung surut," katanya.

Anies menambahkan untuk proyek program drainase vertikal tersebut nantinya akan dikerjakan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Misalnya untuk wilayah perumahan, maka yang bertanggung jawab melaksanakannya adalah dilakukan oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman.

Kemudian, untuk pengerjaan bagian jalan akan dilakukan Dinas Bina Marga. Lalu, untuk bagian aliran sungai akan dikerjakan Dinas Sumber Daya Air (SDA).

"Karena yang dikerjakan simpel kok, cuma buat lubang, jadi bukan sesuatu yang luar biasa, jadi cuma buat lobang aja. Begitu anggaran siap langsung kita mulai, tapi targetnya kita harus membangun 1,8 juta lubang," tuturnya.

(dis/kid)