Politisi PSI Mikhail Gorbachev mengatakan pihaknya ingin mengetahui secara rinci penggunaan anggaran DPR, terutama anggaran kunjungan kerja dan reses. Permintaan data itu, kata dia, diperlukan mengingat kinerja DPR hingga penghujung tahun 2018 sangat buruk.
"Kami ke sini dalam rangka mendorong transparansi DPR. Sebenarnya sudah bagus kami bisa dapat dari online, tapi misalnya dana kunker, reses, itu tidak ada datanya," ujar Mikhail di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (7/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Politisi PSI lainnya, Sigit Widodo menyatakan buruknya kinerja DPR terlihat dari minimnya Rancangan Undang-Undang yang disahkan. Dari data yang dimilikinya, Sigit menyebut DPR hanya mampu mengesahkan empat dari 50 RUU Prolegnas.
Buruknya kerja legislasi DPR, kata dia, tidak sejalan dengan peningkatan anggaran yang bersumber dari APBN.
"Pada tahun 2017 hanya tujuh dari 47 RUU. Padahal anggaran DPR tiap tahun melonjak dari Rp4,2 triliun menjadi Rp5,7 triliun," ujar Sigit.
"Selama ini banyak anggota DPR yang mencoba berkilah soal inefisiensi ini. Dengan dibukanya penggunaan anggaran secara transparan, rakyat bisa menilai sendiri apakah DPR kita sudah bekerja secara efisien atau belum," ujarnya. (jps/osc)