Anies Pertanyakan Kuesioner Survei Jakarta Kota Intoleran

CNN Indonesia | Sabtu, 08/12/2018 17:54 WIB
Anies Pertanyakan Kuesioner Survei Jakarta Kota Intoleran Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mempertanyakan hasil survei Setara Institute yang menyatakan Jakarta sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi terendah.

Dia mengatakan akan mempelajari hasil survei itu, sebab menurutnya bisa saja daftar pertanyaan atau kuesioner yang digunakan sebagai instrumen survei tersebut sengaja diarahkan untuk mendapatkan jawaban tertentu.

"Bisa saja pertanyaan itu disusun untuk mendapatkan jawaban tertentu. Misalnya gini, anda seorang muslim, saya tanya apakah anda salat 5 waktu, cenderung menjawab iya, betul kan? Jadi pertanyaanya pun juga harus diuji," kata Anies di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (8/12).
Kata dia, pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam survei tersebut harus diperiksa objektivitasnya.


"Analisa pertanyaanya per pertanyaan apakah ada pertanyaan yang bias atau tidak, apakah semua pertanyaan objektif atau tidak?," ujarnya.

Anies akan mengundang sejumlah ahli statistik untuk mengukur kebenaran dari penggunaan instrumen dalam survei tersebut.

Setara Insitute merilis daftar kota dengan tingkat toleransi tertinggi. Hasilnya, Jakarta masuk dalam kota yang intoleran. Dari 94 kota yang disurvei Setara, DKI Jakarta berada di urutan 92, di atas Tanjung Balai dan Banda Aceh.

Sepuluh kota dengan predikat toleransi yang rendah yakni Tanjung Balai dengan skor 2,81; Banda Aceh 2,83; Jakarta 2,88; Cilegon 3,42; Padang 3,45; Depok 3,49; Bogor 3,53; Makassar 3,63; Medan 3,71; dan Sabang 3,75.

Selain mempelajari hasil survei Setara Institute, Anies juga akan mengundang Setara Institute untuk berdiskusi tentang validalitas survei.

Kata Anies, jika instrumen penelitiannya bisa dibuktikan sebagai instrumen yang valid maka nantinya dapat dijadikan pijakan perbaikan kebijakan yang akan dilakukan juga akan menjadi baik.

"Kalau alat ukurnya tidak benar nanti langkah kita jadi salah juga," ujarnya.
(ain)