Prajurit TNI Jadi Guru SD di Perbatasan RI-Papua Nugini

ANTARA, CNN Indonesia | Minggu, 09/12/2018 17:40 WIB
Prajurit TNI Jadi Guru SD di Perbatasan RI-Papua Nugini Seorang prajurit TNI Yonif Raider 700 menggendong anaknya saat pemberangkatan pasukan TNI penjaga perbatasan RI-Papua Nugini di Pelabuhan Sukarno-Hatta Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (29/6). (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah prajurit TNI dari Yonif PR 328/DGH menjadi guru untuk mengajar di SD YPK Skofro, Kabupaten Keerom, Papua. Daerah tersebut merupakan perbatasan Republik Indonesia dengan Papua Nugini (RI-PNG).

Danpos Skofro Yonif PR 328/DGH, Letda Inf Ahkmad Mukti para prajurit TNI itu ditugasi menjadi guru untuk mengajar muatan lokal bercocok tanam. Tugas itu merupakan insiatif dari pihaknya sebagai satuan tugas pengamanan perbatasan RI-PNG.

"Kami melihat salah satu kendala yang dihadapi sejumlah sekolah di perbatasan adalah kurangnya tenaga guru atau tenaga didik, sehingga kami di Pos Skofro berinisiatif untuk membantu di SD YPK Skofro," kata Ahkmad saat dihubungi Antara di Jayapura, Minggu (9/12).

Menjadi guru bantu di SD YPK Skofro mulai dilakukan Selasa pekan lalu dengan materi penanaman tumbuhan singkong dan keladi kepada murid-murid di SD tersebut.


"Saya bersama delapan personil langsung membantu untuk mengajar materi muatan lokal yakni berocok tanam. Tanaman keladi dan singkong yang kami ajarkan tanam kepada murid-murid SD YPK Skofro yang mengikuti dengan antusias," kata Ahkmad.

Kepala SD YPK Skofro, Dorce (48) mengatakan pihaknya saat ini memiliki tujuh orang guru di antaranya lima ASN dan dua tenaga honorer, namun ketujuh guru tersebut tidak dapat hadir setiap saat karena tugas dan tanggung jawab yang berbeda dan lokasi tinggal yang sangat jauh dari sekolah.

Total kelas yang tersedia di SD YPK Skofro adalah kelas 1 sampai kelas 5 dengan masing-masing jumlah murid sebanyak 15 orang.

"Kami ucapkan banyak terima kasih kepada personel Satgas, yang mau membantu kegiatan mengajar di SD YPK Skofro. Di sini kami sangat kekurangan guru yang bisa mengajar murid-murid sehingga banyak kendala yang dihadapi pada saat proses belajar mengajar," katanya.
(gil)