ANALISIS

Pertaruhan Ambisi Prabowo Kuasai 'Kandang Banteng'

CNN Indonesia | Rabu, 12/12/2018 18:18 WIB
Prabowo sulit menang dari Jokowi di Jawa Tengah. Tetapi kemenangan bisa didapat jika jelang pemilihan ada peristiwa luar biasa dialami warga Jawa Tengah. Prabowo Subianto bertekad menggerus suara PDIP dan Jokowi di Jawa Tengah pada Pemilu 2019 mendatang. (REUTERS/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia -- Genderang 'perang' Pilpres 2019 ditabuh di Jawa Tengah yang selama ini jadi basis massa PDI Perjuangan. Perang dipicu oleh keinginan kubu pasangan calon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk menggerus suara PDI Perjuangan di Jawa Tengah.

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean, menganggap PDIP dan calon presiden nomor Urut 01 Joko Widodo adalah satu kesatuan. Tak tanggung-tanggung, BPN bahkan memindahkan markas perjuangannya ke Jateng untuk memecah suara PDIP dan menggerus elektabilitas Jokowi di Pilpres 2019.

Pengamat politik dari Universitas Diponegoro M Yulianto menilai peluang Prabowo-Sandi menggerus elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin di Jateng terbuka bila melihat hasil Pilgub Jateng 2018 antara Sudirman Said-Ida Fauziah versus Ganjar Pranowo-Taj Yasin.


Saat itu, Sudirman berhasil meraih suara 41 persen atau hanya berjarak sedikit saja dari Ganjar yang meraih 58 persen suara.

"Meski Jateng basis banteng yang loyal dan militan, tapi masih ada celah untuk pasangan calon masuk dengan menawarkan ekspektasi yang bisa diterima masyarakat Jateng, saya kira masih bisa memenuhi target," ucap Yulianto saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Selasa (11/12).

Dia menerangkan celah itu terbuka dari undecided voters atau pemilih yang belum menentukan pasangan capres-cawapres yang akan dipilih di Pilpres 2019 mendatang.

Yulianto memperkirakan angka undecided voters di Jateng tinggi, yakni sekitar 40 persen dari total daftar pemilih tetap (DPT) Pilpres 2019. Sebagian dari jumlah undecided voters di Jateng adalah kalangan milenial.

Sebaliknya, pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Agus Rianto memperkirakan angka undecided voters di Jateng tidak signifikan.

Perkiraannya berdasarkan hasil Pilgub Jateng 2018 antara Sudirman Said versus Ganjar Pranowo. Saat itu, Ganjar Pranowo meraih sekitar 10,1 juta suara, sementara Sudirman 7,1 juta suara dari sekitar 17,3 juta suara sah.

Berkaca dari angka pemilih di Pilgub Jateng itu, Agus meyakini siapapun yang merangkul undecided voters di Pilpres 2019 tak akan mengubah hasil secara signifikan.

Agus sendiri menilai pengemasan isu di media sosial sulit mempengaruhi pemilih di Jawa Tengah. Selain karena faktor loyalitas, mayoritas pemilih di Jawa Tengah juga disebut tak banyak mengakses media sosial. Ini berbeda dengan keyakinan Yulianto.


Menurut Yulianto, Prabowo bisa meraih suara undecided voters dari kalangan milenial jika mampu mengemas isu apik di media sosial.

Sebaliknya, Agus membeberkan dari sekitar 8.559 kelurahan di Jawa Tengah, sebanyak 70 persen penduduknya tetap tinggal di desa-desa. Hanya 30 persen yang termasuk masyarakat perkotaan. 

"Mereka yang tinggal di perkotaan mayoritas adalah kelompok kelas menengah. Namun jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan kelas bawah yang tinggal di pedesaan," kata Agus.

Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan berjuang keras untuk meraih suara mayoritas di Jawa Tengah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Agus tak menampik kesamaan pola persaingan antara Pilgub Jateng 2018 dengan Pilpres 2019 mendatang. Calon yang bertarung di Pilgub dan Pilpres mewakili pertarungan antara PDI Perjuangan dan Gerindra.

Namun Agus menekankan dalam Pilpres mendatang, faktor ketokohan akan lebih berpengaruh ketimbang di Pilgub.

Pada konteks ini, Agus menilai Jokowi lebih dikenal masyarakat Jawa Tengah dibandingkan Prabowo. "Jadi perkiraan saya pertarungan antar tokoh ini, suara Jokowi nanti masih di atas Prabowo," ujar Agus.

Faktor lain yang ikut berpengaruh adalah karakter pemilih. Agus mengatakan pemilih Jawa Tengah cenderung loyal. Ini terlihat dari angka dukungan kepada PDI Perjuangan sejak Pemilu 1999. 

"Di Jawa Tengah PDIP selalu menang di kisaran 70 persen suara. Memang ada fluktuasi dari tahun ke tahun, tetapi tidak pernah lebih dari 10 persen jumlahnya," kata Agus. 

Meski demikian Agus tak menutup ruang bagi kemenangan Prabowo. Dia mengatakan hal itu bisa saja terjadi jika ada kejadian luar biasa yang muncul jelang pemilihan.

Dari kelas masyarakatnya, kata Agus, kejadian yang bisa mengubah keyakinan pendukung Jokowi di Jawa Tengah masih berkisar pada harga sembako dan BBM.

"Karena sebagian besar masyarakat kelas bawah itu petani, buruh, nelayan. Mereka akan memperhatikan isu yang jadi kebutuhan keseharian mereka," kata Agus.

Joko Widodo diyakini masih lebih populer di Jawa Tengah ketimbang Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/ Harvey Darian)
Kenaikan harga sembako dan BBM di Jawa Tengah jelang Pilpres bisa membuat pendukung Jokowi berbalik mendukung Prabowo. Sebaliknya, kata Agus, Jokowi bisa mempertahankan kemenangan di Jateng bila bisa mengendalikan harga sembako dan BBM itu.

Perang Urat Syaraf

Terpisah, Direktur Eksekutif Vox Pol Center Pangi Syarwi Chaniago mengatakan wacana pemindahan markas perjuangan Prabowo-Sandi ke Jateng merupakan upaya melakukan perang urat saraf (psywar). BPN sedang berusaha menjatuhkan mental lawan di kandang Banteng.

"Saya pikir ini adalah sesuatu yang normal, Prabowo-Sandi sedang berupaya memperkecil ketimpangan atau margin elektoral di Jateng," ucap Pangi lewat keterangan tertulisnya.

Akan tetapi Pangi pesimis Prabowo-Sandi bisa mengalahkan Jokowi-Ma'ruf di Jateng. Upaya-upaya yang dilakukan, dia memperkirakan hanya bisa menyeimbangi.

Prediksi itu berdasakan perolehan suara Prabowo dan Jokowi pada Pilpres 2014 lalu. Saat itu, Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla meraih 12.959.540 atau 66,65 persen, sedangkan suara Prabowo-Hatta kala itu hanya 6.485.720 atau 33,35 persen.

"Medannya tidak mudah, punya tantangan tersendiri. Namun sepertinya BPN Prabowo-Sandi sedang melakukan cek ombak," ucap Pangi. (mst/wis)