Rizal Ramli Mengaku Kecewa Terhadap Kinerja Pers Indonesia

CNN Indonesia | Rabu, 12/12/2018 23:56 WIB
Rizal Ramli Mengaku Kecewa Terhadap Kinerja Pers Indonesia Rizal Ramli. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah Prabowo Subianto, Rizal Ramli turut menyatakan kekecewaannya terhadap media di Indonesia. Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman pun menuding pemilik media terlalu ikut campur dalam kebijakan redaksi sehingga keberpihakan media jadi dipertanyakan.

"Saya memang kecewa karena kebanyakan media mainstream Indonesia makin lama keberpihakannya makin tidak jelas," ujar Rizal saat memberi orasi dalam acara Moeslim Choice Award di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Rabu (12/12).

Rizal berpendapat pers saat ini condong mewakili suara resmi penguasa. Di samping narasi penguasa, ia melihat hanya sedikit narasi alternatif yang diangkat oleh media.
Ekonom senior ini menuding pola kepemilikan media yang dikuasai taipan bisnis sebagai duduk perkara dari kualitas pers saat ini. Dengan pola kepemilikan saat ini, ia memperkirakan ruang redaksi diintervensi sedemikian rupa sehingga tidak begitu kritis.


"Karena pola kepemilikannya, media-media dikuasai oleh taipan-taipan bisnis yang tidak hanya menghentikan pemberitaan negatif atau kritis kepada business group mereka, tapi juga menghentikan sifat kritis dan objektif dari berbagai pihak atas status quo dan penguasa," jelasnya.

Penguasaan sejumlah media oleh sekelompok kecil pengusaha juga menjadi sorotan Rizal. Ia berpendapat kepemilikan media harus lebih terdistribusi sehingga dapat menangkap aspirasi masyarakat yang lebih beragam.
"Harus ada pembatasan, wall, kepemilikan dan redaksi sehingga redaksi betul-betul mencerminkan aspirasi rakyat Indonesia," imbuhnya.

Untuk mengakomodasi keadaan tersebut, Rizal berkata menilai perlu ada perubahan dalam UU Pers. Dengan demikian, dia meyakini pers di Tanah Air bisa berkembang lebih baik.

"Pada waktunya nanti jika terjadi perubahan, kita harus ubah UU Pers ini. Kepemilikan pers tidak boleh lagi dikuasai oleh hanya sekelompok kecil yang menguasai 8 atau 9 channel publik. Tidak boleh itu, di Amerika saja tidak boleh," pungkasnya.

Meski sudah panjang lebar menyampaikan kekecewaannya terhadap kinerja media, Rizal tidak memberi contoh kasus yang melatarbelakangi pendapatnya. Serupa dengan Rizal, sebelumnya Prabowo pun sempat marah kepada media karena menurutnya tidak objektif dalam meliput reuni 212 di Monumen Nasional pada Minggu (2/12) lalu. (bin/age)