Enggan Utamakan Subsidi, Jokowi Pilih Proses Pahit

CNN Indonesia | Kamis, 13/12/2018 22:22 WIB
Enggan Utamakan Subsidi, Jokowi Pilih Proses Pahit Presiden Joko Widodo memberikan sambutan saat meresmikan Tol Solo-Ngawi, Jawa Tengah, Rabu (28/11). (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo menyatakan tak ingin memanjakan masyarakat dengan program subsidi karena tak bisa bertahan lama. Pihaknya ingin mengedepankan infrastruktur dan Sumber Daya Manusia (SDM) agar Indonesia bisa bersaing dengan negara lain. Namun, hal itu tak bisa didapatkan dengan cepat.

"Dalam perjalanan kita bersaing, yang namanya infrastruktur dan peningkatan sumber daya manusia betul-betul jadi syarat. Tapi dalam proses seperti ini, bisa sakit, pahit ya itu sebuah proses yang tidak instan," kata Jokowi, dalam peluncuran buku 'Jokowi Menuju Cahaya', di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (13/12).

Dalam kesempatan itu, ia menyatakan proses pembangunan baik infrastruktur atau SDM pasti memerlukan proses sebelum manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.


Jokowi sendiri memiliki program yang berdampak langsung seperti Program Keluarga Harapan (PKH). Setiap tahun, jumlah keluarga penerima manfaat (KPM) selalu bertambah. Anggaran PKH setiap tahunnya juga bertambah.

Namun, mantan Wali Kota Solo ini berulang kali menyatakan terutama menginstruksikan para pendamping PKH agar mendidik masyarakat tak ketergantungan kepada bantuan.

Bantuan pemerintah bertujuan untuk membantu mendorong perekonomian masyarakat sehingga kualitas hidup membaik.

Hal serupa juga dilakukan melalui pemberian Dana Desa yang meningkat setiap tahunnya. Namun, masyarakat desa diinstruksikan memperbaiki infrastruktur setempat bahkan membuka usaha agar dana tersebut berputar dan meningkatkan perekonomian mereka.

"Ada proses pahit, jangan sampai mendidik [dengan] gampang, instan. [Kalau] memanjakan, buat saja subsidi sebanyak-banyaknya," tutur Presiden.

Menurutnya, pembangunan yang dilakukan instan tak akan bertahan lama. Sehingga, ia menegaskan akan membentuk pembangunan manusia dan infrastruktur yang kuat sehingga Indonesia benar-benar bisa bersaing.

"Beda soal kalau kita memanjakan, terkena gelombang saja langsung hilang. Terseret gelombang yang lain," ucap mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

(chri/arh)