Sponsored by

Strategi Bertahan Disebut Picu Suara Jokowi-Ma'ruf Stagnan

CNN Indonesia | Jumat, 21/12/2018 17:21 WIB
Strategi Bertahan Disebut Picu Suara Jokowi-Ma'ruf Stagnan Kecenderungan kampanye dengan pola bertahan dinilai picu tergerusnya elektabilitas Jokowi-Ma'ruf. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti menyebut elektabilitas pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf Amin, akan cenderung stagnan bahkan negatif jika terus menerapkan strategi kampanye bertahan. Ray menyebut justru kubu Prabowo-Sandi efektif menerapkan pola kampanye 'menyerang'.

"Kalau dengan cara bertahan, elektabilitas Jokowi-Maruf akan stagnan. Ini akhirnya jadi pilihan yang negatif," kata Ray Rangkuti dalam acara diskusi di kawasan Kuningan, Jakarta, Jumat (21/12).

Kampanye Bertahan Disebut Picu Suara Jokowi-Ma'ruf MelorotDirektur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)



Ray mengungkapkan dua perbedaan mendasar pola kampanye kedua kubu dalam beberapa bulan terakhir ini. Di kubu Prabowo, kata Ray, ada tiga pola yang selalu digunakan pasangan calon nomor urut 02 itu. Pola pertama yang kerap digunakan yakni berupa serangan.


"Kecil besar, logis tidak logis, masuk akal atau tidak yang penting serang," ujar Ray.

Salah satu contoh serangan yang belakangan terjadi adalah kasus Habib Bahar bin Smith yang menjadi tersangka kasus penganiayaan anak. Kubu Prabowo, kata Ray, berkukuh bahwa Bahar tak bersalah.

Kemudian pola kedua yang kerap digunakan saat kampanye adalah membuat imajinasi bahwa Prabowo pemimpin umat. Dalam berbagai kesempatan, menurut Ray, kubu Prabowo sering menyebut bahwa mantan Danjen Kopassus itu pilihan umat.

Kampanye Bertahan Disebut Picu Suara Jokowi-Ma'ruf MelorotPrabowo Subianto saat di Reuni Aksi 212 (CNN Indonesia TV)


"Sementara di kubu sebelahnya Jokowi dibilang selalu kriminalisasi ulama," katanya.


Sementara pada pola ketiga, lanjut Ray, kubu Prabowo selalu berbuat dan mengucapkan sesuatu yang kontroversial. Ia mencontohkan cara itu telah dilakukan Sandiaga sejak awal seperti menyebut tempe setipis kartu ATM, makanan di Jakarta lebih mahal dari Singapura, hingga menaruh pete di atas kepala.

"Nah yang baru-baru ini Prabowo mengatakan Indonesia punah," ujar Ray.


Ray pun menyebut, di sisi lain, kubu Jokowi lebih banyak menggunakan pola bertahan dari serangan-serangan yang dilakukan kubu penantang. Namun alih-alih mendulang suara, menurut Ray, pola tersebut justru menjadi bumerang bagi kubu Jokowi.

"Dampaknya dari hasil survei, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf justru turun," ujar dia.

Diketahui, hasil survei internal tim kampanye internal Jokowi-Ma'ruf, Bravo 5, menunjukkan elektabilitas pasangan calon nomor urut 01 itu masih kalah dari pasangan calon Prabowo-Sandiaga Uno di beberapa daerah, termasuk Banten.

Kampanye Bertahan Disebut Picu Suara Jokowi-Ma'ruf MelorotLuhut Binsar Pandjaitan. (CNN Indonesia/Altruist Fachri)


Namun demikian, Dewan Pengarah Bravo 5, Luhut meyakini elektabilitas Jokowi-Ma'ruf akan meningkat jika Ketua Umum MUI itu sudah mulai kampanye kembali ke lapangan. Menurut dia, Ma'ruf memiliki peran cukup signifikan untuk mendongkrak elektabilitas Jokowi.

"Bisa, bisa. Nanti kalau sudah turun tahu kita (berapa persen)," katanya.

Dari sejumlah pemberitaan menyebutkan bahwa Jokowi-Ma'ruf masih unggul di Pulau Jawa dengan perolehan angka 59,2 persen. Hasil ini diperoleh dari survei internal yang dilakukan tim Bravo 5, tim kampanye Jokowi-Ma'ruf yang dibentuk Luhut.


Meski unggul, namun terjadi penurunan bahkan jumlah suara yang masih kalah dari pasangan Prabowo-Sandi. Salah satunya di daerah Banten.

Sementara itu, Anggota dewan pengarah TKN, Pramono Anung, membantah isu kemerosotan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf. Pramono menegaskan tak ada perubahan signifikan dari hasil sejumlah lembaga survei terkait elektabilitas Jokowi-Ma'ruf beberapa waktu belakangan.

"Ya, saya berpegangan pada lembaga survei yang kredibel yang sudah mengumumkan ke publik. Walaupun hasil (survei internal) kami tidak berbeda jauh dengan apa yang diumumkan ke publik," ujar Pramono saat ditemui usai rapat koordinasi TKN di kediaman pribadi Jusuf Kalla, di Brawijaya, Jakarta, Senin (17/12). (pris/ain)