Cegah Teror Surabaya Terulang, Polisi Terapkan Empat Strategi

CNN Indonesia | Selasa, 25/12/2018 02:41 WIB
Cegah Teror Surabaya Terulang, Polisi Terapkan Empat Strategi Ilustrasi sterilisasi gereja. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Surabaya, CNN Indonesia -- Jelang malam Natal, Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya menerapkan sejumlah strategi pengamanan gereja yang lebih ketat diterapkan demi mencegah kembalinya teror di Kota Pahlawan tersebut.

"Pengamanan Natal tahun ini, pasca bom kemarin, kami menerapkan beberapa strategi," kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan saat meninjau Gereja Hati Kudus Yesus, Jalan Polisi Istimewa, Surabaya, Senin (24/12) pagi.

Ia menyebut stretegi itu antara lain, pertama, sterilisasi terhadap 25 gereja yang mempunyai 1.000 hingga 5.000 jumlah jemaah dengan melibatkan Detasemen Khusus/88 Polri (Densus 88).


"Kami melakukan deteksi dan berkoordinasi baik dengan densus 88 maupun dengan kelompok masyarakat lainnya untuk mencegah terjadinya ancaman ancaman itu," lanjutnya.

Kedua, kata Rudy, mengurangi akses masuk kendaraan ke Gereja dengan berkoordinasi pihak gereja. Bentuknya, menerapkan pembatasan akses kendaraan masuk ke area gereja. Arus lalu lintas di sekitar gereja pun dijaga ketat, dengan menempatkan pembatas.

"Ini belajar dari kejadian kayak kemarin. Kendala ada motor sampai bisa masuk ke halaman. Kali ini tidak bisa karena sudah berhadapan dengan barier-barier," kata dia.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan menunjukkan foto keluarga Dita Upriyanto yang disebut sebagai pelaku bom Surabaya, Minggu (13/5).Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan menunjukkan foto keluarga Dita Upriyanto yang disebut sebagai pelaku bom Surabaya, Minggu (13/5). (ANTARA FOTO/Nanda Andrianta)
Ketiga, pengawalan terhadap seluruh gereja di Surabaya. Menurut Rudy, ratusan gereja lain di Surabaya, selain 25 gereja dengan jamaah besar yang disterilisasi, juga tetap dalam penjagaan ketat pihaknya.

"25 gereja itu adalah bagian dari jumlah keseluruhan 355 gereja di Surabaya. Nantinya di seluruh gereja itu saat Natal berlangsung dikawal petugas kepolisian," ucapnya.

Keempat, pengerahan pasukan yang besar dari berbagai unsur untuk mengamankan Natal 2019. Rudy menyebut pihaknya sendiri menerjunkan 2/3 dari keseluruhan 3.100 personil yang dimiliki, atau sekitar 2.000 orang personel.

Jumlah ini pun dibantu oleh aparat TNI korem 084 Bhaskara Jaya, Pemkot Surabaya, dan Ormas Banser, Muhammadiyah, dan juga gerakan Pramuka.

"Kami targetkan atau sudah kami plotting di setiap gereja ada polisinya beserta TNI dan teman teman lainnya," pungkas Rudi.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Linmas Pemkot Surabaya Eddy Christianto mengatakan dalam pengamanan natal dan tahun baru ini, Pemkot Surabaya menerjunkan sekitar 2.700 personil.

Ledakan akibat serangan teroris di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). Ledakan akibat serangan teroris di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). (ANTARA FOTO/HO/HUMAS PEMKOT-Andy Pinaria)
Diantaranya dari Satpol PP sebanyak 500 personil ditambah lagi yang dari kecamatan 325 personil, kemudian dari Linmas 315 persenil dan Kasatgas 154 personil, lalu dari Dishub sebanyak 245 personil, semua personil PMK beserta mobil-mobilnya yang akan siaga di beberapa objek vital, personil dari Dinas Kebersihan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) dan juga Kominfo.

"Jadi, totalnya sekitar 2.700-an, mereka sebagian akan bergabung di pos-pos kepolisian yang sudah dibangun di berbagai titik di Surabaya," katanya.

Ia juga menjelaskan, sejak kemarin, beberapa ruas jalan juga ditutup, tepatnya di depan gereja yang letaknya berada di pinggir jalan protokol. Oleh karena itu, Eddy meminta pengertiannya kepada masyarakat Surabaya atau pengendara yang nantinya akan melintas di jalur itu.

"Di jalan itu, nanti akan ditutup satu ruas jalan dan akan diberlakukan hanya satu ruas jalan, sehingga kami mohon pengertiannya kepada para pengendara, hal ini demi ketenangan umat kristiani yang akan menjalankan ibadah," pungkasnya.

Sebelumnya, rentetan bom mengguncang Surabaya, Jawa Timur, Mei, bom bunuh diri meluluhkan lantakan tiga gereja di Surabaya. Polisi menyebut pelaku merupakan satu keluarga yang mencoba menerobos masuk gereja saat jemaah sedang beribadah tanpa pengamanan. Selain itu, bom juga meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.

(frd/arh)