Ribuan Umat Katolik Palembang Doa untuk Tsunami Selat Sunda

CNN Indonesia | Selasa, 25/12/2018 01:35 WIB
Ribuan Umat Katolik Palembang Doa untuk Tsunami Selat Sunda Longsoran dari aktivitas Gunung Anak Krakatau menyebabkan tsunami di Selat Sunda, Sabtu (24/12). (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ribuan jemaah mulai memadati Gereja Katolik Paroki Santo Yoseph, Jalan Jenderal Sudirman Palembang, Sumatra Selatan untuk mengikuti misa Natal, Senin (24/12). Romo Laurentius Rakidi mengatakan, jemaah yang akan datang pada misa Natal kali ini diprediksi mencapai 4.000 jemaah.

Misa Natal kali ini tidak jauh berbeda dengan tahun ssbelumnya. Namun tahun ini dirinya pun mengajak jemaah untuk mendoakan bangsa Indonesia yang sedang sering dilanda bencana sepanjang tahun ini.

"Tentu dalam perayaan malam ini dan besok akan kami selipkan doa untuk saudara kita yang mendapatkan musibah, khususnya tsunami yang terjadi kemarin. Kami doakan bagi yang luka cepat sembuh, tabah bagi yang ditinggalkan dan bagi yang meninggal diterima di sisi-Nya," ujar Rakidi saat persiapan misa.




Pihaknya pun akan melakukan penggalangan dana demi memberi bantuan terhadap para korban tsunami usai perayaan natal.

Penggalangan dana, ujar Rakidi, merupakan tanda keikutsertaan dan tanda belasungkawa dari umat katolik terhadap para korban.

"Umat katolik di mana pun berada bisa memberikan kontribusi yang bersifat persaudaraan," ujar dia.



Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kepundan Gunung Anak Krakatau yang kolaps menyebabkan tsunami Selat Sunda.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan hal itu diperoleh dari analisi bersama BMKG dengan sejumlah lembaga lain. Dia menuturkan kepundan Gunung Anak Krakatau yang kolaps menyebabkan longsor bawah tanah laut.

"Dan akhirnya menimbulkan tsunami," kata dia dalam jumpa pers di Jakarta dalam siaran CNN Indonesia TV, Senin (24/12).

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebelumnya menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Senin dini hari berada pada Waspada (Level II) dengan rekomendasi masyarakat dan wisatawan tidak diperbolehkan mendekat dalam radius dua kilometer dari kawah. Berdasarkan data BNPB, korban meninggal peristiwa ini mencapai 281 korban jiwa.



(idz/ain)