Kapolri: Aksi Teror Naik, Penangkapan Meningkat 113 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 00:37 WIB
Kapolri: Aksi Teror Naik, Penangkapan Meningkat 113 Persen Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut penangkapan terkait terorisme naik 113 persen pada 2018. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapolri Jendral Tito Karnavian menyebut penangkapan terkait tindak pidana terorisme pada 2018 meningkat 113 persen dibanding tahun sebelumnya. Di saat yang sama, aparat yang gugur an terluka terkait terorisme meningkat 72 persen.

"Pelaku yang ditangkap juga meningkat drastis 113 persen, yakni tahun ini ada sebanyak 396 pelaku dan tahun lalu yang ditangkap 176 pelaku," kata Tito di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (27/12).

Namun, dari 396 pelaku yang ditangkap, baru 12 pelaku teror yang sudah mendapat vonis. Sisanya, yakni 204 orang, masih dalam proses penyidikan, dan 141 pelaku sudah dalam proses sidang.


"Sisanya meninggal dunia karena gakkum [penegakan hukum], bunuh diri, dan meninggal dunia karena sakit," jelas Tito.

Di sisi lain, Tito menyebut angka polisi yang gugur dan terluka saat menjalankan tugas juga turut meningkat. Sepanjang tahun 2018 ada delapan orang anggota yang gugur dan 23 lainnya terluka.

"Ini naik sekitar 72 persen. Di tahun lalu ada anggota kita 4 orang yang gugur dan 14 orang terluka," ungkap Tito.

Kapolri: Aksi Teror Naik, Penangkapan Meningkat 113 PersenFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Menurutnya, ratusan penangkapan ini tak lepas dari peningkatan jumlah aksi terorisme pada 2018 yang mencapai 17 aksi teror. Angka ini meningkat 42 persen dari tahun sebelumnya yang berjumlah 12 aksi teror.

Selain itu, Tito menyebut itu ada kaitannya dengan pengesahan Undang Undang nomor 5 tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Aturan ini memungkinkan polisi menindak akar-akar teroris yang masih berkembang di tahap awal.

"Misalnya membekuk orang tertentu yang tergabung dalam organisasi teroris atau yang dilarang pengadilan. Dan setiap orang yang bergabung itu bisa dipidana, ini lebih mudah," ujar Tito.

Kapolri pun menyebut bahwa terorisme masih menjadi ancaman, terlebih jaringan ISIS masih bergerak di level internasional. Upaya ISIS ini disebut memengaruhi jaringan terorisme di Indonesia untuk terus bergerak.

Tito menegaskan pihaknya terus bersiap sedia untuk terus menangkal terorisme di Tanah Air.

"Meskipun ada potensi ancaman, tapi dengan ada yang kemampuan yang lebih kuat, dan UU yang lebih kuat kita bisa mengatasi mereka," tutup Tito.

(ctr/arh)