Hal ini dikatakannya terkait evaluasi politik luar negeri pemerintahan Jokowi melalui akun Twitter pribadinya, Senin (31/12).
Menurutnya, Indonesia bergembira usai terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020. Ironisnya, kata Fadli, peran Indonesia dalam forum internasional memudar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terutama dalam isu pelanggaran HAM yang dialami etnis Rohingya di Myanmar dan muslim Uighur di Xinjiang, di mana tidak terdengar suara Indonesia sama sekali," cetus dia.
"Dari kedua isu ini, sikap politik luar negeri Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi, seperti tidak merepresentasikan sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia," Fadli melanjutkan.
Lihat juga:Uighur dan Dugaan Penindasan China Pada 2018 |
Begitupula dalam isu Rohingya. Fadli mengaku ada upaya secara bilateral dari pemerintah untuk meredakan konflik di kasus itu. Namun, kata dia, "peran yang diambil Presiden Jokowi masih sangat normatif".
"Padahal Indonesia memiliki peran alami sebagai pemimpin di ASEAN, yang semestinya dapat menjadi pioner untuk mendorong permasalahan Rohingya agar disikapi secara kolektif oleh ASEAN. Namun inipun tidak terlihat," kritiknya.
Massa dari PA 212 berunjuk rasa soal muslim UIghur di depan Kedutaan Besar China, Jakarta, Jumat, 21 Desember. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
"Meskipun saat ini kita sedang memiliki banyak kerja sama ekonomi dengan China, sikap pemerintah Indonesia tidak boleh terpengaruh dengan kondisi tersebut," kata dia.
"Sebab, selain Indonesia memiliki peran alamiah sbg negara muslim terbesar, menjaga ketertiban dunia adalah mandat konstitusi. Dan diamnya pemerintah @jokowi dalam isu muslim Uighur, menandakan pemerintah kita gagal memaknai modal besar yg dimiliki Indonesia," cetusnya.
Massa dari PA 212 berunjuk rasa soal muslim UIghur di depan Kedutaan Besar China, Jakarta, Jumat, 21 Desember. (