Selain Air dan Energi, Prabowo Sebut Krisis Pangan di 2045

arh, CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 14:57 WIB
Selain Air dan Energi, Prabowo Sebut Krisis Pangan di 2045 Capres Prabowo Subianto (kiri) bersama Koordinator Juru Bicara pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Dahnil Anzar Simanjuntak (kanan). (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyebut soal potensi krisis pangan pada 2045. Sebagai solusi, ia menawarkan penanaman 6 juta hektare lahan dengan bahan pangan yang juga dapat menjadi sumber energi alternatif.

"Saudara-saudara, kalau kita lihat indikator-indikator, semuanya mengkhawatirkan. Kita di ambang krisis pangan, krisis energi, dan krisis air. Indonesia akan krisis pangan tahun 2045," tutur dia, dalam Ceramah Kebangsaan Akhir Tahun Prabowo Subianto, di Hambalang, Bogor, yang diunggah di di laman Facebook-nya, Minggu (30/12).

"Apa strategi program besar yang akan saya usulkan? Satu, kita tanam 6 juta hektare untuk kita swasembada pangan, swasembada energi bahan bakar, dari apa? Dari aren, dari cassava, cassava itu adalah singkong," ucapnya menambahkan.



Menurut dia, singkong memiliki potensi untuk menjadi bahan bakar alternatif berupa ethanol. Selain singkong, adapula kelapa sawit yang bisa menjadi bahan bakar alternatif. Hal itu disebutnya sebagai green energy yang tak merusak lingkungan.

"Kita juga tidak merusak lingkungan, tidak ada polusi, ini adalah green energy, energi dari tanaman yang bisa diperbarui. Singkong satu tahun sekali panen, sepuluh bulan. Jadi, kita, tidak akan habis-habis. Kita bener-bener bisa berdiri di atas kaki kita sendiri," ujar Prabowo.

Terpisah, Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyebut tiga jenis ancaman krisis yang diungkap Prabowo itu bukan bagian dari sikap pesimistis, namun mengungkap fakta agar bisa diperbaiki.

"Spesifik Mas @prabowo menyampaikan tantangan bahwa Indonesia diambang tiga krisis. Yakni; Krisis Pangan pada 2045 [IPB], Krisis Energi karena akan jadi net importir energi pada 2027 [BPPT], Krisis Air 2025 [air bersih, air tanah] [World Water Forum]. Ketika jadi Presiden beliau [Prabowo] fokus pada tiga hal tersebut," tutur Dahnil, dalam akun Twitter-nya, Senin (31/12).

Untuk menanggulangi potensi-potensi krisis itu, Dahnil menyebutkan tiga fondasi utama di dalam bangunan negara adil makmur. Yakni, jaminan keamanan, jaminan energi, jaminan tanah dan air.

"Bagaimana langkah Mas @prabowo menghadapi tiga tantangan tersebut? Bak satu rumah, Indonesia harus dibangun dengan elemen-elemen ini," ucapnya tanpa merinci teknis penanggulangan krisis itu.


"Menurut Mas @prabowo untuk menghadapi tantangan itu kita butuh 'lompatan besar' dan 'dorongan besar'. Yang dilakukan melalui kepemimpinan yang kuat dan bermartabat. Kepemimpinan yang tidak dikendalikan namun mengendalikan," Dahnil melanjutkan.

Sebelumnya, sejumlah pihak menyoroti pola komunikasi Prabowo dan timnya saat kampanye yang kerap menyebarkan narasi-narasi yang bisa memicu kecemasan. Misalnya, isu negara bubar, negara punah, dan kini krisis di 2025.

"Prabowo Subianto ingin dilihat sebagai pahlawan dengan membangun narasi kecemasan yang tujuan akhirnya ia ingin dilihat sebagai hero," kata pengamat komunikasi politik Lely Arrianie kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/12).

Dahnil menyatakan pihaknya bukan sedang menyebarkan pesimisme. Ia mengklaim pihaknya hanya ingin memahami lebih dahulu tantangan yang dihadapi atau mengetahui penyakit yang sedang diderita.

"Mas @prabowo menganalogikan, bak seorang dokter, untuk mengobati pasien, dia perlu tahu dan menyampaikan fakta penyakit yg dihadapi Pasien. Bila tekanan darahnya tinggi ya nyatakan tinggi. Sehingga tahu apa yang harus dilakukan. Itu bukan pesimis namanya, tapi memaparkan fakta untuk diperbaiki," ucap dia.

Diberitakan sebelumnya, guru besar pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Widiatmaka, dalam orasi ilmiahnya, April, menyebut tentang potensi krisis pangan pada 2045.

Penyebabnya adalah jumlah penduduk yang meningkat, ketergantungan produk pangan dari Jawa, serta konversi atau pengalihan fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi permukiman dan lainnya.

(arh/sur)