Warga Pantai Carita Masih Mengungsi di Pegunungan

CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 15:20 WIB
Warga Pantai Carita Masih Mengungsi di Pegunungan Ilustrasi pengungsi. (ANTARA FOTO/Ardiansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten sejak delapan hari terakhir pascabencana tsunami Selat Sunda masih bertahan di pengungsian di kawasan Gunung Durung.

"Kita lebih baik tinggal di pengungsian dulu, sebelum dinyatakan aman dari ancaman bencana tsunami," kata salah satu pengungsi Anda Suhenda, Senin (31/12) seperti dikutip dari Antara.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Rukun Tetangga (RT) di Kampung Durung itu mengatakan wilayah permukiman terbilang cukup parah terdampak terjangan tsunami pada malam 22 Desember 2018.



Saat ini, kata Anda, jumlah warga yang mengungsi di kawasan Gunung Durung sekitar 200 kepala keluarga (KK). Mereka tinggal di pengungsian Gunung Durung menempati rumah keluarga, masjid dan sekolah.

"Kami siap kembali ke rumah setelah ada kejelasan dan pengumuman yang dikeluarkan pemerintah daerah," katanya.

Menurut dia, masyarakat yang tinggal di pengungsian belum berani kembali ke rumah, karena kondisi Gunung Anak Krakatau masih aktif mengeluarkan letusan dan bencana tsunami itu akibat longsoran dari tubuh Anak Krakatau.

Saat ini, katanya, sebagian warga yang berani melihat rumahnya hanya pada siang hari saja dan mereka tetap tidur di pengungsian.

Rani, salah seorang warga yang mengungsi mengaku hingga kini masih trauma karena masih teringat terjangan gelombang besar yang menakutkan.

"Kami tidak membayangkan jika tsunami itu berlangsung 20 menit dan ada ombak susulan dipastikan warga banyak korban jiwa," kata Rani yang mengaku rumahnya turut roboh diterjang tsunami Selat Sunda.

Warga Pantai Carita Masih Mengungsi di PegununganPrajurit KRI Torani 860 mengamati aktivitas Gunung Anak Krakatau saat erupsi di Perairan Selat Sunda, 28 Desember 2018. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

33.316 Warga Pandeglang Mengungsi Pascatsunami


Sebanyak 33.316 warga pesisir Pandeglang korban bencana tsunami pun hingga kini masih bertahan di pengungsian.

"Semua korban tsunami itu belum kembali ke rumah masing-masing," kata Ketua Koordinator Tanggap Darurat Bencana Tsunami Pandeglang, Letkol Fitriana Nur Heru di Posko Terpadu Penanggulangan Bencana Tsunami di Labuan, Pandeglang, Banten, Senin.

Sangsang, warga Desa Teluk mengatakan dirinya hingga kini masih tinggal di pengungsian yang lokasinya menempati musala di kantor kecamatan Labuan.

Ia bersama ratusan warga lainnya tidak berani kembali ke rumah, karena belum ada kepastian pengumuman maupun perintah dari pemerintah atau koordinator tanggap darurat daerah untuk kembali ke rumah. Selain itu, penyebab tsunami dari Anak Krakatau masih mengeluarkan erupsi letusan, hembusan, hingga tremor.

"Kami berani kembali ke rumah setelah adanya jaminan keamanan dari instansi terkait atau pemerintah daerah," ujarnya.

Nurhayati, warga Desa Cigodang, Labuan Kabupaten Pandeglang mengaku dirinya bingung karena kondisi rumahnya rata dengan tanah akibat diterjang tsunami. Apabila, pengungsi diperintahkan kembali ke rumah, ia bersama empat anak bingung harus menghuni kemana. Sebab, bangunan rumah dan perabotan rumah tangga hancur.

"Kami berharap pemerintah bisa membangun kembali rumahnya itu," kata Nurhayati yang mengungsi di GOR Futsal Labuan pascatsunami Selat Sunda.

(Antara/kid)