Banjir Pandeglang, Jembatan Penghubung Empat Desa Ambruk

Antara, CNN Indonesia | Selasa, 01/01/2019 13:24 WIB
Banjir Pandeglang, Jembatan Penghubung Empat Desa Ambruk Hujan deras sepanjang Senin malam membuat sungai meluap dan membanjiri permukiman warga yang baru saja kembali dari pengungsian. (CNNIndonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jembatan yang menghubungkan empat desa di Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, ambruk akibat diterjang air sungai yang meluap dampak dari hujan deras yang turun sepanjang Senin (31/12) malam.

Staf pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pandeglang, Ade Mulyana menyatakan bahwa jembatan yang berada di Kampung Sukamara itu tidak kuat menahan derasnya air Sungai Cisata yang meluap akibat hujan deras.

"AKibat amburknya jembatan itu, maka akses empat desa di Kecamatan Menes terputus, yakni Desa Kananga, Purwaraja, Sindang Karya, dan Cigandeng," ujarnya, Selasa (1/1) di Pandeglang.


Dengan ambruknya jembatan itu, maka warga di empat desa tersebut bisa terisolasi jika tidak segera dilakukan perbaikan atau dibuat jembatan sementara untuk akses penghubung.


Ia juga menyatakan, reruntuhan jembatan harus segera dibersihkan karena menyumbat aliran air di Sungai Cisata.

"Kalau reruntuhan jembatan dibiarkan saja, maka air tersumbat dan bisa meluap ke permukiman warga yang berada di sekitar Sungai Cisata," ujarnya.

Menurut dia, cukup banyak material jembatan yang ambruk itu dan menghalangi jalur air di sungai.

Warga kembali mengungsi

Hujan yang mendera pada Senin malam juga membuat ratusan warga di Desa Teluk, Labuan, Pandeglang, menungsi.

Pada Senin malam, ketinggian air dilaporkan sempat mencapai tiga meter meski sudah menyusut setengahnya pada Selasa pagi menjelang siang.

Menurut Radi, warga setempat, banjir ini membuat ratusan warga yang baru kembali dari pengungsian akibat tsunami yang melanda Selat Sunda pada Sabtu (22/12) lalu, terpaksa kembali mengungsi.


"Banjir cukup dalam, akibat hujan deras semalam yang menyebabkan air dari Sungai Cipunten melimpah hingga ke perkampungan penduduk," kata Radi yang tinggal di Kampung Sentul, Desa Teluk itu.

Menurut dia, banjir yang terjadi kali ini merupakan yang kedua kali. Dua hari setelah tsunami, kawasan Desa Teluk dan desa lain di Kecamatan Labuan serta kecamatan lainnya di Pandeglang direndam banjir akibat hujan deras yang terus mengguyur.

Sekitar 500 kepala keluarga (KK) di Kampung Sentul sudah dievakuasi oleh petugas gabungan dari Basarnas dan TNI/Polri ke pengungisan, atau pindah sementara ke rumah kerabatnya di tempat lain.

"Kalau hujan tidak berhenti ketinggian air bisa menutup atap rumah. Sekarang saja ada 1,5 meter, bahkan pada beberapa titik lebih dalam lagi," ujar Radi. (stu)